Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Tentang Kepastian dan Keyakinan

Pernahkah kau mendapati pertanyaan antara kepastian dan keyakinan? Di luaran sana banyak kudapati manusia-manusia yang mengejar kepastian. Tapi bukankah kepastian itu juga tidak pasti. Sama seperti waktu di mata orang-orang yang menutup mata. Tidak ada masa lalu dan masa depan. Hanya ada sekarang. Ya, sekarang.  Bukankah masa lalu adalah sisa-sisa sekarang, dan masa depan nantinya juga akan menjadi sekarang. Bukankah di dunia ini tidak ada kesejatian. Bukankah gedung-gedung megah atau gunung-gunung perkasa yang kau lihat itu sejatinya hanya butiran debu dan bulu-bulu. Yang dengan pasrah menunggu diulum waktu.  Lalu, untuk apa kau mencari kepastian. Ketika kesejatian pun sebenarnya tidak benar-benar nyata.  Lalu, manakah yang kau pilih? Kepastian atau keyakinan? 

Tentang Hati dan Cuaca

Hati dan cuaca bukanlah kesatuan, namun saling berkaitan. Sekedar untuk menutupi yang tersirat agar tidak tersurat. Hatimu bukanlah metafora. Namun, cuaca sebaliknya. Bagimu, membahas cuaca adalah cara untuk berkamuflase.  Dengan mudah kamu mengatakan cuacamu cerah, bersih, biru, terang, dan tanpa awan. Atau mungkin kamu mengatakan cuacamu mendung. Padahal matahari tengah tersenyum lembut. Burung-burung riang berkicauan. Kuncup-kuncup bunga bermekaran. Di kejauhan hatimu terkekeh. Menertawakan kebohongan yang kau buat sedemikian rupa. Dan kita pun terjebak dalam permainan tebak-menebak. Kebisuan menyeret kita ke dalam belenggu duga-menduga. Untuk menjaga yang tersirat agar tetap tak tersurat.  Dengan mudah kita menciptakan cuaca-cuaca. Namun, sejatinya, kita lupa bahwa hati tak dapat berdusta. Meskipun masing-masing kita memutuskan untuk saling memunggungi kebenaran. Kita pun telah jauh melangkah dalam rengkuhan cuaca-cuaca yang kita buat. Hingga kebenaran sema...

Surat Merah Jambu

Hai kamu. Apa kabar?  Mungkin saat membaca tulisan ini kamu sedang terjaga karena insomniamu itu, atau mungkin kamu sedang bermain dengan rutinitasmu di pagi hari. Awalnya aku tidak ingin membalas surat merah jambu darimu, karena aku takut kehilangan sahabat hebat sepertimu. Tapi, ku rasa aku sudah cukup banyak bercengkrama dengan ruang sendiriku. Akan tidak adil bagimu jika kubiarkan kamu terus larut dalam harapan-harapan. Hingga akhirnya ku putuskan untuk menulis surat balasan atas suratmu itu.  Hai kamu.  Aku tahu sejak pertama kali kamu menyapaku, ada seberkas harapan yang kamu selipkan di sana. Pun, di setiap kata dalam surat merah jambumu, aku dapat merasakan harapan itu. Mungkin aku bisa membalas surat merah jambumu, tapi maaf aku tidak bisa membalas harapan yang kau tuliskan di sana.  Hai kamu. Jujur harus ku katakan. Sudah ada lelaki yang selama ini menyita sebagian besar ruang di hatiku. Sudah ada seseorang yang membuatku ingin berlama-lama h...

Balada UNBK dan Depresi Siswa

Akhir-akhir ini aku mendapat hiburan gratis dari membaca status Whatsapp beberapa teman yang berisi screenshot komentar siswa-siswa SMA tentang sulitnya soal UNBK (terutama pada Mata Pelajaran Matematika, Fisika, Kimia) dan depresi mereka yang dibalut dengan kata-kata dan candaan kocak. Ternyata, komentar-komentar itu sudah viral pada beberapa hari belakangan (akunya aja yang kudet!). Aku kadang berpikir kalau komentar itu hanya settingan sekedar sebagai penghibur masyarakat dunia maya, karena kurasa candaan itu terlalu ‘kreatif’ untuk anak-anak yang berstatus pelajar. Namun, lagi-lagi dugaanku salah, candaan itu memang benar adanya (inilah the power of kids jaman now !). Banyak media yang memberitakan begitu sulitnya UNBK tahun ini, sampai-sampai banyak siswa yang down dan tidak bersemangat lagi untuk mengikuti ujian di hari berikutnya. Berbicara mengenai UNBK, memang UNBK dibuat bukanlah sebagai penentu kelulusan siswa, melainkan sebagai pengukur kemampuan dan kejujuran si...

Cerita yang Terserak (atau Sengaja Diserak?)

Tema tulisanku kali ini bukanlah curhatan receh tentang diriku, seperti yang kutulis pada tulisan-tulisanku sebelumnya. Kali ini, aku akan menuliskan sedikit tentang sejarah. Aku memang tidak mengetahui banyak tentang sejarah. Terlebih basic pendidikanku juga bukanlah sejarah. Namun, ada banyak pertanyaan yang berjejalan tentang sejarah dalam benakku. Terutama ketika aku mengetahui ada perbedaan yang begitu mencolok antara sejarah yang selama ini kupelajari di bangku sekolah dengan apa yang kudengar dari cerita kakek tua itu. Ya, beliau adalah kakek tua yang berusia kira-kira hampir 80 tahun. Panggil saja beliau Mbah No. Sebenarnya, Mbah No melarangku untuk menceritakan apapun tentang apa yang telah beliau ceritakan padaku, meskipun kepada keluarga beliau (maaf Mbah No, aku mengingkari janjiku!). Pasalnya, tidak kepada seorang pun beliau ceritakan terkait hal ini. Bahkan istri dan putra-putri beliau tidak mengetahui akan apa yang beliau alami 51 tahun silam. Ya, beliau mengubur...