Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2018

Sepatu

Tulus. Ikhlas. Menurut kalian bagaimana cara mengukur ketulusan atau keikhlasan hati? Terkadang aku berpikir, ketika aku melakukan sesuatu, apakah aku sudah benar-benar tulus. Atau ketika aku merelakan sesuatu apakah aku juga sudah benar-benar tulus. Ttiga minggu sebelum Ramadhan, aku menghabiskan beberapa waktu di kediaman nenek dan kakekku di Ngawi. Beliau berdua tinggal di daerah yang menurutku bisa dibilang pedalaman dan cukup susah diakses. Di sana aku bertemu dengan seorang bisu yang bernama Mbak Saliyem. Rumah beliau kecil dan sederhana, cukup dekat dengan pasar, aku yang setiap pagi bertugas belanja ke pasar, seringkali disapanya dengan suara parau dan terbata-bata, dan terkadang aku sulit memahaminya, yang aku tahu hanya beliau menyapaku, itu saja. Bahkan pernah ketika aku dikejar anjing nakal kepunyaan tetangga beliau, Mbak Saliyem menolongku dengan melempar anjing itu dengan batu untuk mengusirnya. Aku sungguh berterimakasih kepada beliau. Aku adalah perempuan norma...

Adek Alfi

Gambar
Entah mengapa tiba-tiba aku teringat Rumah Sakit di mana satu tahun lalu nenekku dirawat. Di Rumah Sakit itu aku bertemu seorang anak kecil yang ‘istimewa’. Awalnya, kupikir dia masih berusia 2 tahun, tapi ternyata usianya sudah 4,5 tahun. Tidak seperti anak-anak diusianya, Allah belum mengizinkan gadis cilik ini untuk bisa berjalan dan berbicara. Dia hanya bisa berbicara sepatah dua patah kata yang tidak jelas. Dari anak itu aku belajar banyak hal tentang keceriaan, ketulusan dan mungkin keacuhan. Pernah dia memegang sepotong roti, lalu digigitnya. Mulutnya belepotan krim-krim roti yang bercampur dengan air liur yang menetes. Setelah menggigit roti itu, dia menyeret pantatnya menuju sekumpulan orang dewasa yang sedang makan di depan kamar sebelah. Dia memberikan roti yang telah digigitnya itu kepada dua atau tiga orang itu, atau mungkin lebih, aku lupa jumlah tepatnyanya. Namun, sepertinya sekumpulan orang itu nampak tidak nyaman dengan kedatangan Adek Alfi. Mungkin mereka tidak ...

Teh Tubruk

Beberapa hari yang lalu, karena suatu hal aku diharuskan untuk berangkat ke Ngawi, padahal sehari sebelumnya aku baru saja datang dari Ngawi. Kemudian, selain hal itu ada banyak hal lain terjadi terkait dengan keluarga besarku, dan membuatku seolah terlempar ke dalam lubang sempit yang menyesakkan. Ada dua pilihan kala itu, pergi atau tetap tinggal di Tulungagung. Dengan pertimbangan-pertimbangan nurani, akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Perjalanan Tulungagung-Ngawi memakan waktu kurang lebih 5 jam. Tidak cukup lama sebenarnya, hanya saja terkadang kondisi bis AKAP yang sesak dan kondisi desa di mana kakek-nenekku tinggal yang begitu panas dan kering membuatku sedikit malas untuk melakukan perjalanan ini. Hehehe. Astaghfirullah ! Aku sampai di rumah beliau berdua sekitar pukul 3 sore. Setelah aku membersihkan diri dan membereskan barang-barangku aku menghambur ke dapur. Menyeduh satu gelas besar teh tubruk panas. Gila ini perut apa karung! Sebenarnya, aku bukanlah pencinta t...

Gadis Bermata Sendu

Hidup tapi mati. Mati tapi hidup. Apa yang lebih menyakitkan daripada itu? Cerutu adalah kesakitan yang setiap hari dihisapnya. Setiap hari. Setiap waktu. Sampai bibir mungilnya itu tiada mampu mendeskripsikan sakitnya kesakitan. Dia gadis bermata sendu. Yang berdiri di persimpangan. Yang menatap nanar jalanan penuh topeng-topeng. Jangan sekali pun kau bertanya rumah kepadanya. Bahkan dia sudah lupa apa itu rumah. Bagaimana wujud rumahnya. Apa warna dinding rumahnya. Dan kenangan apa yang tersisa di sana. Jangan pula kau menanyakan bapak dan ibu kepadanya. Sudah pasti dia diam seribu bahasa. Karena bapak ibunya sudah tiada. Tiada dalam hampanya ke-‘ada’-an. Pun, jangan pernah kau tanyakan cinta kepadanya. Hatinya terlanjur mati untuk menyimpan cinta. Cinta hanyalah kidung yang mengada-ada. Yang menyeret manusia ke dalam tipuan fatamorgana. Dia gadis bermata sendu. Yang berdiri di persimpangan. Yang menanti kesakitan-kesakitan lain bertandang kepadanya. Lalu pergi begitu sa...