Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2018

Pertunjukan Bayang-bayang

Dahulu, ketika aku masih di Solo, aku suka sekali menonton pertunjukan apapun yang diadakan di Kampus ISI. Hal ini kulakukan karena di tengah-tengah keseharian yang dipenuhi pemikiran-pemikiran idealis dan rasionalis rasa-rasanya seni pertunjukan dapat menjadi salah satu pilihan guna menyelaraskan antara pemikiran rasional dan olah rasa kebatinan. Selain itu aku memang menyukai pertunjukan-pertunjukan budaya sih, dan juga kosku cukup dekat dengan Kampus ISI, sehingga bagi mahasiswa yang suka berolah-raga sepertiku: jalan kaki terutama (karena sebenarnya aku gak ada motor untuk pergi jauh-jauh), sekedar mencari hiburan malam (jangan negative thinking ya!) di Solo tidaklah sulit. Kala itu adalah peringatan Hari Wayang sedunia. Seperti biasa Kampus ISI sangat ramai pengunjung. Ada beberapa titik pertunjukan kala itu, di Pendopo Besar, Teater Besar, Teater Kecil, dan di depan Rektorat ISI. Di Pendopo Besar ada pagelaran wayang dengan dhalang-dhalang kondang, diantaranya (Alm) Ki En...

Penyesalan

Begitu banyak hal yang tidak bisa ku katakan dalam hidup. Kata maaf ketika aku berantem dengan adekku. Rasa bersalahku ketika aku membuat adekku menangis dan mengurung diri di kamar. Rasa peduliku ketika aku menyadari bahwa sedari pagi tadi dia belum makan apapun. Aku tidak bisa memungkiri perasaan itu, tapi aku juga tidak bisa menunjukkannya. Aku adalah anak pertama dari lima bersaudara. Jadi, sejak kecil aku sudah terbiasa hidup keras walaupun masih banyak orang-orang di luar sana yang hidupnya jauh lebih keras daripada aku. Bapak dan Ibuku dahulunya menghidupi keluarga dengan berjualan kerupuk, jajanan, jamu, sampai pakaian. Aku dulu juga sering ikut begadang untuk sekedar merecoki bapak dan ibuku membungkus kerupuk. Sampai-sampai sekarang bapak sering menggodaku kalau aku ini gak tinggi-tinggi seperti adek-adekku karena dulunya sering makan bungkus kerupuk! Jahat banget ini mah . Setelah kupikir-pikir mungkin hal inilah yang membuatku menjadi seorang kakak yang keras, gala...

Solo

 Ruang Pertemuan di Pura Mangkunegaran Beberapa hari yang lalu, waktu menyeretku untuk memunguti kenangan-kenangan selama dua tahun terakir. Ya, karena suatu hal aku harus kembali ke Solo. Kota yang tidak terlalu bising namun mampu mencetak sejuta rindu bagiku. Benar saja, aku sudah merindukan Solo meskipun masih berselang 2 bulan semenjak kedatangaku terakhir kali ke kota itu. Dan aku sangat bersyukur atas perjalananku kali ini. Ada banyak hal yang ku rindukan dari Solo. Aku rindu pagelaran wayang, tari, dan teater di Kampus ISI yang dulunya tidak pernah ku lewatkan. Aku rindu shalat tarawih di Masjid ISI yang bangunannya berbentuk pendopo itu. Aku rindu berjalan kaki ke kampus sambil menyapa tukang sol sepatu atau pedagang-pedagang yang menggelar lapak di trotoar sepanjang jalan belakang antara ISI – UNS. Aku rindu untuk bercerita banyak hal dunia pendidikan dan kepenulisan ilmiah serta wejangan-wejangan dari promotorku, yang sudah ku idolakan bahkan sebelum aku me...