Pertunjukan Bayang-bayang
Dahulu, ketika aku masih di Solo, aku suka sekali menonton pertunjukan
apapun yang diadakan di Kampus ISI. Hal ini kulakukan karena di tengah-tengah
keseharian yang dipenuhi
pemikiran-pemikiran idealis dan rasionalis rasa-rasanya seni pertunjukan dapat menjadi salah
satu pilihan guna menyelaraskan antara pemikiran rasional dan olah rasa
kebatinan. Selain itu aku memang menyukai pertunjukan-pertunjukan budaya sih, dan
juga kosku cukup dekat dengan Kampus ISI, sehingga bagi mahasiswa yang suka
berolah-raga sepertiku: jalan kaki terutama (karena sebenarnya aku gak ada
motor untuk pergi jauh-jauh), sekedar mencari hiburan malam (jangan negative
thinking ya!) di Solo tidaklah sulit.
Kala itu adalah peringatan Hari Wayang sedunia. Seperti biasa Kampus ISI
sangat ramai pengunjung. Ada beberapa titik pertunjukan kala itu, di Pendopo
Besar, Teater Besar, Teater Kecil, dan di depan Rektorat ISI. Di Pendopo Besar
ada pagelaran wayang dengan dhalang-dhalang kondang, diantaranya (Alm) Ki
Enthus Susmono, Ki Purba Asmara, dan Ki Mantep Sudarsono. Malam itu adalah
pertama kalinya aku melihat sosok bintang iklan Oskadon Oye—Ki Mantep Sudarsono
itu secara langsung. Beliau nampak gagah dengan biskap merah, meskipun waktu sudah
banyak meninggalkan guratan yang sangat kentara di wajah beliau.
Sambil menunggu pertunjukan inti yang didhalangi oleh dhalang-dhalang
kawakan itu, aku menonton pentas wayang di Teater Kecil (biasanya kami
menyebutnya TK) yang didhalangi oleh mahasiswa Pedhalangan ISI sendiri. Lakon
yang dibawakan kala itu adalah Perang Baratayudha. Aku cukup tertarik dengan
pentas tersebut, karena pagelaran wayang yang diadakan berbeda dengan pagelaran
yang seringkali kutonton selama ini. Kami para penonton tidak bisa melihat
secara langsung dhalang, sinden, yaga (pemain karawitan dalam pagelaran
wayang), dan wayang kulit itu sendiri. Singkatnya, kami, para penonton berada
di belakang kelir, bukan di belakang dhalang atau yaga seperti pentas wayang
kulit yang umumnya kita tonton, kami menonton bayang-bayang dari wayang itu. Jadi,
fokus kami—para penonton tertuju pada
bayang-bayang wayang.
Awalnya, aku pikir pagelaran wayang kulit semacam itu adalah variasi pagelaran
wayang, hasil dari gagasan kreativitas mahasiswa ISI, tapi setelah aku membaca
dari buku yang berjudul ‘Wayang dan Filsafat Nusantara’ milik Bapak ternyata
kata wayang dalam bahasa Jawa berarti ‘bayangan’—dalam bahasa Indonesia berarti
bayang-bayang. Oleh karena boneka-boneka yang digunakan dalam pagelaran (wayang)
itu berbayangan atau memberikan bayang-bayang maka dinamakanlah ‘wayang’. Mungkin
saja pada awalnya pagelaran wayang memang berupa bayang-bayang dari balik kelir
seperti pertunjukan yang kutonton di TK kala itu. Hal ini mungkin bertujuan
agar fokus para penonton tertuju pada alur cerita lakon pewayangan yang berisi
nilai-nilai luhur, bukan pada yang lainnya. Dengan kata lain, wayang adalah
pertunjukan bayang-bayang yang merupakan simbol dari nilai-nilai luhur
kehidupan.
Namun, pagelaran wayang saat ini sudah banyak mengalami
pergeseran. Hal ini diutarakan oleh Bapak yang juga seorang dhalang dan kakung
yang memang sudah banyak berkecimpung di dunia budaya. Menurut beliau berdua,
wayang itu ibarat bayang-bayang cahaya Tuhan. Karena wayang merupakan
simbol-simbol dari apa yang diciptaan Tuhan. Tidak seperti sekarang ini, dulunya,
sinden itu tidak menghadap penonton namun menghadap kelir. Karena dalam kelir
itu ditampilkan nilai-nilai kehidupan—ditampilkan ilmu-ilmu Tuhan melalui lakon
pagelaran wayang. Sehingga, semua pihak harus menghadap kelir, tidak
terkecuali. Wayang bukan hanya sekedar sarana hiburan, namun lebih kepada
sarana pengajaran. Jadi, inti dari wayang adalah nilai-nilain dari lakon itu
sendiri, bukan hiburan-hiburan yang ditawarkan, seperti sinden-sinden cantik
atau dagelan yang mengocok perut. Dagelan itu hanya sekedar intermezzo untuk
membangkitkan suasana, intinya tetap pengajaran yang dikemas dalam cerita atau
lakon pewayangan. Namun, sayang kebanyakan orang lebih tertarik dengan guyonan-guyonan yang terkadang juga berisi olokan atau bahkan cacian yang bisa saja menyakiti hati. Makanya, kakung pernah mengatakan bahwa dalam pagelaran wayang, dagelan itu rentan bikin dosa.
Wayang merupakan pengejawantahan jiwa manusia. Setiap figur wayang
memiliki watak yang berbeda. seperti Arjuna digambarkan sebagai seorang ksatria
yang tampan, halus perangainya, lemah lembut tutur katanya, sopan tingkah
lakunya, namun cekatan dan berhati baja, pantang mundur dan selalu menang dalam
peperangan. Singkat kata, Arjuna merupakan intisari atau ringkasan dari manusia
laki-laki yang jantan, tampan, sederhana, sopan santun dan religius. Atau Bima
yang digambarkan sebagai ksatria gagah, besar, dan kasar, namun halus budinya. Bima
adalah figur mistikus, yang mana dari kurang lebih 400 figur wayang, Bimalah
satu-satunya figur yang dapan bertemu dengan Dewaruci.
Dalam buku ‘Wayang dan Filsafat Nusantara’ wayang dijabarkan sebagai
simbol yang menerangkan eksistensi manusia dalam hubungannya antara daya
natural dan supranatural, hubungan antara manusia dengan alam semesta, makhluk
dengan Penciptanya, antara bawah dan atas, tua dan muda, suami dan sitri, ayah
dan anak, guru dan murid, kanan dan kiri, Pandawa dan Kurawa, atau antara
sesama dengan diri sendiri. Sebagai contoh, Perang Baratayudha itu sendiri,
perang yang menjadi puncak dari lakon Mahabarata merupakan salah satu simbol perwujudan
dari bertemunya yang haaq dan yang bathil, yang baik dan yang buruk, Pandawa
dan Kurawa. Pandawa adalah perwujudan dari kebaikan dan Kurawa dalah simbol
dari kebatilan. Namun kesemua itu adalah ksatria. Pandawa adalah ksatria, dan
Kurawa adalah kstaria. Meskipun mereka saling berperang, mereka tetaplah saling
membutuhkan. Keduanya, baik kebaikan ataupun kebatilan akan selalu ada. Tidak mungkin
yang satu ada dan yang lainnya lenyap. Seperti halnya penggambaran Pandawa dan
Kurawa yang masihlah saudara dalam satu wadah. Begitupun kebaikan dan kebatilan
juga masihlah berada dalam satu wadah. Wadah itu adalah jiwa manusia itu
sendiri. Ya, kebaikan dan kebatilan akan selalu bersemayam dalam jiwa manusia.
Dengan demikian sebagai perwujudan nilai-nilai kehidupan, wayang
mengajarkan nilai-nilai toleransi, lapang dada, dan bersedia menerima dan
memelihara, serta menghormati orang lain beserta prinsip yang mereka yakini,
entah itu sejalan atau bertentangan dengan kita. Ya, begitulah kura-kura!
Mantab.. Memang benar sih, selain tontonan, wayang juga mengandung tuntunan dan tatanan.. Tapi ya begitulah, semakin kesini semua semakin bergeser.. Nice post
BalasHapusAnyway, suwun kakak..
Hapus