Pohon Pisang


Angin berhembus pelan menggoyangkan tangkai-tangkai ilalang. Lia menerawang jauh mengamati langit biru. Merasakan hembusan angin menelisik rambutnya. Dihadapannya puluhan petani sibuk dengan usahanya. Memanen padi yang menguning. Menggiling padi hingga menjadi butir-butir beras putih.
Sesaat pandangannya mengarah pada seorang kakek yang tengah menebang pohon pisang. Pohon itu berukuran cukup besar bila dibandingkan dengan perawakan kakek itu yang terbilang kurus. Urat dan otot bermuculan dipermukaan kulitnya yang berkeringat diterpa sinar matahari. Lia berjalan mendekati kakek tua itu.
“Loh Kek, kok pohonnya ditebang. Kan sayang, besar-besar begini ditebang.” Protes Lia pada Kakek itu. Si Kakek tersenyum, memamerkan rentetan gigi yang tak lagi sempurna. Beberapa gigi seri dan gerahamnya tanggal dimakan usia.
Nduk, kalau pisang ini tidak ku  tebang, tetap akan percuma saja, dia tetap akan mati. Mengering. Dia tak bisa berbuah lagi, tapi  setidaknya pisang ini sudah bertunas.” Tutur Kakek itu. Lia terdiam sejenak.
“Oh, begitu Kek.” Jawab Lia sedikit mengernyitkan dahi. Sebenarnya, masih tersimpan beberapa pertanyaan dalam dirinya.
“Hidup itu akan lebih bermakna, jika meneladani pohon pisang. Lihat saja, nduk, pohon pisang mati setelah menghasilkan tunas baru. Tunas itu nantinya akan melanjutkan tanggung jawabnya sebagai pohon pisang. Kau mengerti maksudku, Nduk?”
Lia terdiam, pikirannya masih meraba-raba tentang apa yang dimaksudkan kakek tua itu, “Benar begitu Kek?”
“Iya. Pohon pisang berjuang keras menahan diri. Dia menyimpan lebih banyak cadangan makanannya pada buah dan tunasnya. Coba kau amati sendiri.”
Sambil menerawang di kejauhan, kakek itu melanjutkan tuturnya, “Hidup ini hanya sebentar. Hiduplah dengan meneladani pohon pisang, yang rela mati demi menghasilkan generasi baru. Generasi yang akan melanjutkan tanggung jawabnya sebagai pohon pisang. Manusia pun begitu, kelak jika manusia itu mati, hendaknya meninggalkan generasi pula. Generasi manusia yang akan melanjutkan tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Generasi yang akan menjaga keharmonisan kehidupan di dunia.”
Lia tersenyum mendengar penuturan itu. Kini, nampak jelas sudah tujuan hidupnya. Sekali lagi ditatapnya langit biru. Gadis itu beranjak meninggalkan kakek tua yang kembali disibukkan dengan kegiatannya—menebang pohon pisang.
Lia berdiri diantara ilalang-ilalang yang  bergoyang. Menatap mantap matahari diangkasa sana, sambil berangan bahwa di atas tanah di mana dia berdiri sekarang, di antara hamparan ilalang yang bergelayut manja tertiup angin, akan berdiri kokoh sebuah bangunan. Nantinya, di bangunan itu akan berhias canda tawa keceriaan, dan merdunya nada serta syair-syair lagu penuh semangat yang akan dinyanyikan anak didiknya. Lia yakin, dari bangunan itu akan hadir manusia-manusia yang mampu mengubah dunia. Dan Lia pun semakin mantap, dia harus menjadi pohon pisang. 

Komentar

  1. jadi teringat apa yg dikatakan abang saya Chairil "sekali berarti, sudah itu mati".

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. Butul eh betul. Btw, tengkyu kang sudah mampir.

      Hapus
  2. wuuuhuu, tampilan blognya baru :3 suka sekalii semoga makin produktif ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe... Siaaap mbak Linda.. Tengkyu yaa udah mampir..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertunjukan Bayang-bayang

Penyesalan