Penyesalan
Begitu banyak hal yang tidak bisa ku
katakan dalam hidup. Kata maaf ketika aku berantem dengan adekku. Rasa
bersalahku ketika aku membuat adekku menangis dan mengurung diri di kamar. Rasa
peduliku ketika aku menyadari bahwa sedari pagi tadi dia belum makan apapun.
Aku tidak bisa memungkiri perasaan itu, tapi aku juga tidak bisa
menunjukkannya.
Aku adalah anak pertama dari lima
bersaudara. Jadi, sejak kecil aku sudah terbiasa hidup keras walaupun masih
banyak orang-orang di luar sana yang hidupnya jauh lebih keras daripada aku.
Bapak dan Ibuku dahulunya menghidupi keluarga dengan berjualan kerupuk,
jajanan, jamu, sampai pakaian. Aku dulu juga sering ikut begadang untuk sekedar
merecoki bapak dan ibuku membungkus kerupuk. Sampai-sampai sekarang bapak
sering menggodaku kalau aku ini gak tinggi-tinggi seperti adek-adekku karena
dulunya sering makan bungkus kerupuk! Jahat banget ini mah.
Setelah kupikir-pikir mungkin hal inilah
yang membuatku menjadi seorang kakak yang keras, galak, cerewet, suka ngomel,
dan segudang keburukan-keburukan lainnya. Sejujurnya, aku tidak ingin adekku
menjadi anak yang manja. Aku ingin adekku menjadi perempuan yang disiplin, kuat
dan mandiri. Meskipun sampai sekarang pun aku juga belum bisa sepenuhnya
mandiri dan disiplin sih. Hehehe… Oleh karena itu, aku sering marah-marah
ketika ada hal yang tidak semestinya.
Hari ini, entah mengapa aku meledak. Aku
begitu marah, ketika hape yang kutitipkan pada adekku terjatuh dengan keras di
jalanan. Harusnya dia bisa menjaga apapun yang diamanahkan kepadanya. Aku
begitu marah karena kecerobohannya itu. Sebenarnya, aku tahu bahwa dia pun juga
tidak bermaksud untuk itu. Tapi emosiku terlanjur meledak. Terutama ketika melihat tombol
volume HPku lepas. Sebenarnya, aku sangat bersyukur bahwa setelah aku
mengeceknya, sepertinya tidak ada kerusakan yang berarti pada HPku, kecuali
tombol volume yang lepas itu. Tapi, inilah kebodohanku, amarahku terlanjur
melompat ke permukaan.
Aku mengatakan kepada adekku, “kalo punya
otak itu dipake! Harusnya kamu lebih berhati-hati dalam menjaga barang yang
dititipkan ke kamu!” mendengar kata-kataku itu adekku sakit hati. Dia melukai
dirinya sendiri dan mengurung diri di kamar seharian, tanpa makan dan minum.
Sejujurnya, dalam hatiku ada penyesalan yang menyiksa. Kenapa aku begitu
emosional. Harusnya aku bisa menjaga perkataanku agar tidak melukai seseorang.
Aku merasa bersalah karena satu perkataanku itu dapat merusak semuanya. Membuat
adekku menyiksa dirinya sendiri.
Menjelang waktu petang, perasaan bersalah
itu semakin menghantam hatiku. Aku teringat bahwa tadi siang, sebelum tragedi
jatuhnya HPku itu terjadi, dia mengatakan bahwa dia lapar karena belum sarapan
dan belum makan apa-apa. Astaghfirullah. Aku harus berbuat apa. Sejujurnya aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak tahu harus seperti apa membujuk adekku. Sebenarnya, aku masih sedikit gengsi juga sih. Hehehe.. Syukur adek keduaku
pulang dari Malang, aku memintanya untuk membujuk adekku yang lagi ngambek
itu. Aku menyiapkan susu, menghangatkan sayur, dan menggoreng telur untuk lauk,
dan meminta adek keduaku untuk mengantar ke kamarnya. Awalnya, dia tidak mau,
dan menggodaku untuk mengantarkannya sendiri. Aku gak mau, dan mengatakan kalo
aku masih sebel karena kejadian tadi siang. Tapi adekku mengatakan lagi,
“Halah, sampean iku asline perhatian, sayang tho karo Fifi (nama adek ketigaku
yang ngambek itu)?” Jujur saja, sebenarnya ingatan tentang kejadian itu sudah
menguap sedari siang dan digantikan rasa bersalahku setelah melukai hati
adekku. Mendengar ucapan adek keduaku, aku terdiam, mana ada kakak yang tidak
sayang kepada adeknya, sekeras apapun dia. Jauh di dalam hatiku, aku menyesal. Aku harap setelah ini,
tidak ada penyesalan lagi yang harus ku telan karena emosiku yang sering
kali meluap.
***
Tulisan ini adalah tulisan yang aku tulis
kira-kira 5 hari sebelum Ramadhan. Awalnya aku ingin menyimpan tulisan ini di
file corat-coret di laptopku saja, tapi karena aku belum menulis apa pun untuk
minggu ini, aku putuskan untuk memposting tulisan ini saja, sekedar membiasakan
diri untuk istiqomah. Maaf jika aku tidak bisa benar-benar 'kembali menulis' minggu ini.
Komentar
Posting Komentar