Anak Zaman
Anak
Zaman
“Tetapi kata dapat mengubah jiwa manusia, dan sesungguhnya, pada
jiwa yang berubah terletak perubahan yang niscaya bagi dunia dan kehidupan,” (M.
Fauzil ‘Adhim, Inspiring Word for Writers).
Di sana terukir nama-nama yang semerbak wanginya masih tercium
hingga sekarang. Di sana tercatat peristiwa yang setiap detailnya menggetarkan
jiwa dari masa ke masa. Di sana tertulis nama Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana
yang dengan gigih memaksa para Proklamator untuk segera merumuskan Proklamasi,
dan, benar saja sehari setelah peristiwa yang dikenal dengan Peristiwa
Rengasdenglok itu, NKRI menyatakan kemerdekaannya.
Di sana tertulis pula nama Bung Tomo dengan visinya ‘Merdeka atau
Mati’ yang senantiasa mengalirkan energi positif tiada henti selama lima hari
hingga arek-arek Suroboyo tanpa gentar mampu mengguncang Hotel Yamato
dan merobek warna biru dari sucinya Saka Merah-Putih. Ya, merekalah sebagian
pemuda yang namanya selalu menggema dalam setiap ruang sejarah.
Pemuda adalah lentera dalam kelamnya penderitaan negeri ini.
Pemudalah jiwa yang sarat akan visi dan misi. Keberanian, kegigihan, perjuangan
serta pengorbanan adalah aspek-aspek yang senantiasa dijunjung tinggi. Karena
itulah, pemuda akan menjelma menjadi anak zaman yang visinya akan selalu mengukir
sejarah dan membawa perubahan.
Lalu, bagaimana dengan anak zaman kita hari ini? Zaman yang
menawarkan kebebasan mutlak. Zaman yang menuhankan kemajuan teknologi dan
penyamarataan hak-hak tanpa memandang batasan norma dan etika. Zaman yang
mencekoki manusia dengan berbagai kemudahan, hingga terbiasa akan hasil yang instan
dan melupakan pentingnya suatu proses. Zaman kita hari ini menyuguhkan
kenikmatan dan mendorong mereka, anak-anak zaman tanpa sadar menghanyutkan
mimpi dan visi mereka. Visi itu mengalir begitu saja bagai air. Namun, bukankah
air selalu mengalir dari ketinggian menuju tempat yang lebih rendah? Seolah kebenaran
ucapan Soekarno akan kekuatan dan eksistensi para pemuda memudar begitu
saja. Memudar bersama aliran mimpi dan visi mereka.
Duhai, betapa berartinya suatu visi, bahkan Albert Einstein
mengatakan, “Visi itu lebih penting daripada pengetahuan.” Kau tahu mengapa?
Karena, pengetahuan bersifat lampau dan terbatas. Sedangkan visi adalah masa
depan yang tiada batas. Oleh sebab itu, pemuda dengan visilah yang akan menjadi
anak zaman, seperti Chaerul Saleh, Bung Tomo, atau bahkan Nelson Tansu yang
menjadi anak pada zamannya. Ya, pemuda dengan visilah yang akan menjadi anak
zaman, yang mampu membuat perubahan dan mengukir namanya di atas lembar-lembar
sejarah.
“Karena ke
kemah kami,
Sejarah sedang
singgah,
Dan mengulurkan
tangannya yang ramah,
Tak ada lagi
sekarang waktu,
Untuk merenung
panjang, untuk ragu-ragu,
Karena jalan
masih jauh.”
(Taufiq Ismail, Horison)

Komentar
Posting Komentar