Amatir
Sebenarnya pada posting minggu ini saya ingin menulis
tentang perasaan bersalah saya sebagai seorang guru tempo hari. Namun, hari ini ada satu pengalaman yang
benar-benar membuat jemari saya gatal untuk segera menuliskannya.Tadi sore ketika saya sedang menyusun PTK untuk membantu
ibu dalam memenuhi syarat kenaikan tingkat, Bapak bertanya kepada saya, “Ya, gelem
dadi host acarane Pak Ribut?” Tanpa pikir panjang saya mengiyakan, “Purun Pak,
janji enek fuluse. Hehehehe.” Yawis, ndang macak gek budhal!
Omegaaat! Betapa terkejutnya dan betapa bodohnya
saya. Kenapa mulut saya harus menjawab demikian, saya yang notabene adalah mantan
mahasiswa Pendidikan Matematika bahkan belum pernah sama sekali berkecimpung
dalam dunia jurnalistik atau semacamnya. Hari ini, tanpa persiapan sama sekali saya
harus mengisi acara yang saya sendiri tidak mengetahui bagaimana alur acara
yang akan saya bawakan. Bahkan nama dan tema acaranya saja saya tidak tahu. Singkatnya,
saya hanya bermodal ‘rai gedheg’.
Selepas maghrib saya mulai mempersiapkan diri, mulai dari make up sampai berlatih
bicara di depan kamera. Meski masih pertama kali saya berhadapan dengan kamera,
alhamdulillah saya bisa melakukan dengan cukup santai. Jelas, berbeda ketika
saya bertemu dengan orang yang saya sukai. Ah, rasanya susah diungkapkan. Lebih
baik saya tidur saja! (Nah loh, curcol. Hehehehe..)
Okay! Back to the point. Setelah beberapa kali
melakukan latihan, saya dan kru bergegas menuju Palenggahan (Makam) Tumenggung Surontani
yang terletak di Kaki Gunung Budheg. Sepanjang perjalanan, perasaan saya
tiba-tiba berubah kacau, terlebih lagi ketika memasuki area Palenggahan. Perasaan
saya amburadul, tidak tenang, dan jujur ada rasa takut yang menyergap (padahal biasanya
saya bukan termasuk orang penakut). Selain itu, pengambilan video yang harus
dilakukan dalam keadaan tanpa penerangan semakin menambah besar kadar ketakutan dalam
hati saya. Pengambilan video sesi pertama, dilakukan dengan action
menaiki tangga bersama dengan 3 tamu undangan. Kemudian dilanjutkan dengan pembukaan acara yang bertempat di samping
area pemakaman umum. Entah darimana asalnya, ketika saya mulai membuka acara,
terdengar suara seperti manusia yang meraung. Keras sekali. “Ah, hanya suara
hewan”, pikir saya. “Tapi, hewan apa? Saya belum pernah mendengar suara hewan
seperti itu.” Seketika saya merinding, badan saya terasa dingin. Konsetrasi saya
hilang. Kacau. Berulang kali saya mengulang salam pembukaan, dan berulang kali
pula suara raungan itu terdengar. Saya mencoba menenangkan diri saya dengan membaca Al Fatihah dan sebagainya. Hingga pada akhirnya saya mulai bisa mengacuhkan
suara itu, walaupun rasa takut tidak bisa terelakkan dari diri saya.
Pengambilan video part pertama berlangsung dalam
beberapa menit. Cut. Kameramen berpindah tempat. Kali ini, kameramen mengambil video
dari dekat dedaunan. Karena merasa fokus kamera terhalangi oleh ranting daun,
kameramen memotong ranting tersebut dan mencoba memfokuskan kamera kembali pada
saya dan 3 tamu yang nantinya akan menjelaskan perihal sejarah dan kisah semasa hidup Tumenggung Surontani . Seketika hasil pengambilan video berubah menjadi kabur,
dipenuhi titik-titik putih. Kameramen berpindah tempat yang lebih dekat kepada
kami. Nihil. Hasil pengambilan video tetap saja tidak maksimal. Sampai pada
akhirnya, salah seorang sesepuh meminta kru untuk menghentikan acara.
Kami beristirahat sebentar. Dalam hati saya sangat bersyukur.
Setidaknya, saya bisa sejenak menenangkan perasaan dan pikiran yang sedari tadi
kacau akibat kejadian-kejadian di luar nalar. Saya mengambil air minum, namun,
jujur saja pikiran saya masih bertanya-tanya apa sebenarnya suara raungan yang
saya dengar tadi. Saya pernah beberapa kali mengalami hal-hal mistis, namun apa
yang saya alami malam ini (terlebih
suara raungan tadi) begitu menyita
perhatian saya. Ketika pengambilan video, suara itu kerap sekali terdengar. Namun,
kenapa sekarang suara itu hilang. Ya, setelah kami break, suara itu
tidak terdengar lagi. Bukannya saya tidak percaya dengan hal-hal goib, namun
terkadang sangat susah bagi saya untuk melogikanya, sebagimana kejadian yang
barusan saya alami. Ah, biarlah saya berdebat dengan pikiran saya sendiri. Di sisi lain, setelah
perundingan yang cukup panjang antar kru, diputuskanlah untuk mengakhiri acara dan
bersiap pulang.
Kami tidak mendapatkan apa-apa malam ini, kecuali kisah-kisah di luar nalar manusia. Setibanya di rumah, saya segera shalat isya. Bapak
meminta saya untuk membaca Al quran. Saya mengatakan bahwa saya sudah membacanya
setelah maghrib. Jujur, saya ingin segera tidur saja setelah shalat. Bapak
tetap meminta saya untuk membaca Al quran, “Apa salahnya membaca lagi!” Saya pun
mengiyakan permintaan bapak, dan membuka random halaman muskhaf saya. Tepat
di halaman 414, saya membaca dari ayat teratas sampai satu halaman muskhaf. Kemudian, saya membaca terjemahan ayat surah yang saya baca tersebut. Ada 2 ayat yang menarik perhatian saya, yaitu surah Luqman ayat 26 – 27 yang tertulis, “Kepunyaan Allah-lah apa
yang ada di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya, Allah Dia-lah Yang Maha Kaya
lagi Maha Terpuji. Dan seandainya pohoh-pohon di bumi menjadi pena dan laut
(menjadi tinta), ditambah kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya,
niscahya tidak akan habis-habisnya dituliskan kalimat Allah. Sesungguhnya Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Jleb. Seketika, saya tersindir. Saya ‘ditempeleng’
oleh Allah. Siapa saya? Bagaiaman bisa orang bodoh macam saya mencoba memikirkan ilmu dan kekuasaan Allah
yang tiada batas. Ya, saya telah lupa untuk melibatkan Allah dalam segala
tindakan. Harusnya, jika saya melibatkan Allah dan hanya bergantung pada Allah,
saya tidak akan merasa takut di mana pun saya berada dan apapun yang saya
hadapi. Malam ini saya tertampar. Saya adalah manusia amatir yang mulai menyombongkan
kebodohannya. Namun, saya juga bersyukur, betapa beruntungnya orang bodoh ini. Melalui
kebodohannya Allah mengajarkannya satu hal bahwa manusia tidak memiliki suatu apapun
untuk disombongkan.
Suka gaya kepenulisan cerita ini mengalir mba :)
BalasHapuswaw..merinding baca tulisannmu kak, terkadang memang hal-hal metafisis hadir kpd kita untuk merobohkan logika pragmatis.
BalasHapustercerahkan
..
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusHoror mbak. Hihi. Aku penakut anaknya wkwk pasti kalo jadi kamu udah kabur haha
BalasHapusWah jadi host acara apa mbak itu? Kok semacam misteri gitu...
BalasHapusWah seru pengalamannya mbak. Ternyata mbak Zahra ada bakat nge-host nih :)
BalasHapustarik nafaassssss.....
BalasHapushuufffttt.........
aku juga pernah pelantikan PMR, disuruh nge-gombalin nisan. GILAAAA.....
tp Alhamdulillaah... gak ada apa apa,,, tenang....