Empat Anasir


Lia berdiri di suatu tempat. Ada ratusan bahkan ribuan anak tangga yang menuju entah ke mana. Pandangannya mengedar. Tubuhnya dikelilingi 4 anasir: tanah, api, angin, dan air. Gadis itu mengira dia telah bebas. Bebas dari warna-warna laksana mata pisau yang senantiasa membidik dan siap menghujam tubuhnya kapan saja. Tapi, jangankan bebas, ribuan pertanyaan semakin sesak menjejali otak. 
Gadis itu menatap nanar dan penuh tanda tanya.Tatapannya masih sama seperti beberapa waktu sebelumnya. Waktu di saat tubuh ringkihnya diterpa tirai jendela yang menjilat-jilat seolah siap menelannya. Tunggu! Benarkah kejadian itu masih berselang beberapa waktu dari sekarang? Ku rasa tidak. Tapi mungkin saja juga iya. Ah, siapa yang mampu menafsir relativitas waktu. Dalam hati, Lia bertanya-tanya, ‘apakah aku sudah mati?’ lalu muncul pertanyaan lagi ‘ke mana hidup pergi setelah mati?’, lalu ‘kenapa ada api, angin, tanah, dan air—apa maksud dari semua ini?’.
Pandangannya tertuju pada kilatan api yang berkobar disusul hembusan angin yang semakin membuatnya membara. Dalam api itu ada bayangan dirinya. Lia berteriak. Lari kesana-kemari. Kelabakan mencari sesuatu untuk memadamkan api. Bayangan itu tak bergeming. Malah menari dan menikmati aliran angin yang mengalun bagai desahan kematian.
Sejurus, Lia berlari ke arah air. Mencoba membawa air yang barangkali mampu memadamkan api itu. Lia mencari cawan, bejana atau apa saja yang mampu dia gunankan. Nihil. Tak temukannya apapun di sana. Dia membawa air dengan tangannya. Berlari sekuat tenaga. Sia-sia. Air di tangannya sudah habis. Merembes melalui sela-sela jemarinya. Lia berlari ke arah tanah. Mencoba mengambil barang segenggam. Sekali lagi, nihil. Jemarinya bahkan tidak mampu menahan partikel tanah yang terlampau halus. Berulang kali Lia mencoba, berulang kali pula partikel itu lenyap bagai debu.
"Sejatinya, 4 anasir itu adalah dirimu sendiri. Amarahmu terlampau hebat bagai api. Sampai-sapai ia membakar habis dirimu. Angin itu pun juga dirimu, yang senantiasa meniupkan keraguan dan kegelisahan. Sampai-sampai kau tak bisa berpikir jernih sebagaimana air. Sampai-sampai kau tak bisa merendah, serendah tanah. Dan kau melupakan dirimu sendiri.”

PS: Hai gengs! Lama tak menulis ya. Ah,  akhirnya aku bisa kembali menulis lagi. Sebenarnya tulisan ini adalah bagian dari proyek menulis yang digagas oleh seorang teman di ig. Jadi tulisan ini juga aku post di akun instagramku.  Tapi rasa-rasanya memang kurang puas kalo gak posting di blog juga. Hihihi.. Anyway, sori kalo tulisan ini acak adul. Maklum, jemari uda lama g senam di atas keyboard. Ayo Kembali Menulis!!! 

Komentar

  1. Andai aku menjadi lia, pasti aku kerjasama dengan Zuko untuk menyelamatkan dunia avatar. Keren mbak, agak dipanjangin laaah,, biar aku puas baca nyaaaa. Bikin noveeeeel

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha.. Karakter di ignya gak muat.. Novel? Hmm.. Ada sih beberapa janin novel yg belum sempurna di file coret2ku. Dan sekarang mangkrak, ide lagi buntu.. Tengkyu btw uda mampir..

      Hapus
  2. Kayak baca potongan novel nya dee lestari.supernova..Hehe nays mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaa jelas jauh lah sama novelnya dee.. Btw, tengkyu sudah mampir..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertunjukan Bayang-bayang

Pohon Pisang

Penyesalan