Bila Ku (Perempuan) Jatuh Cinta
Hai gengs! Sebelumnya
terimakasih sudah mampir dan meninggalkan jejak di tulisan ini. Anyway, Tulisan
ini terilhami lantaran beberapa waktu lalu seorang teman memposting link
instagram video presenter kawakan Najwa Shihab tentang ‘jodoh’ di grup Whatsapp
(yang saat ini sedang ku gandrungi… eaaakk.. lebay dikit gpp lah yah!). Yap,
seperti biasa di sepertiga malam (sekalian ngabisin jatah kuota midnight,
daripada mubadzir) saya langsung membuka youtube dan menonton wawancara
Mbak Najwa dengan Abi Quraish.
Satu hal
yang menarik bagi saya adalah ketika Abi menjelaskan bahwa jodoh itu harus
dijemput dan diusahakan. Kemudian, beliau juga mengatakan bahwa hal yang paling
mudah untuk dilakukan dalam menjemput jodoh adalah dengan berdoa. Tanpa mengurangi
rasa hormat saya terhadap Abi, saya kurang sependapat dengan beliau dalam hal
ini. Menurut saya, justru bedoa adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Apa yang
lebih sulit daripada memendam cinta atau katakanlah mencintai dalam diam? Bahkan
kata Raditya Dika, “Jatuh cinta yang paling menyakitkan adalah jatuh cinta yang
dilakukan diam-diam.” Ketika kita mencintai dalam diam, ada begitu banyak ‘tanda
tanya’ yang berkecamuk dalam dada, seolah mencintai sudah tak bisa menunggu, ditambah
rasa cinta yang semakin bertambah kapasitasnya nyaris tak bisa terbendung lagi,
meski demikian kita harus stay cool memendam rasa. OMG! It’s kinda complicated!
Menurut saya, butuh kesabaran ekstra untuk itu.
Life
is a matter of choice. Dalam hidup pasti kita akan selalu dihadapkan dengan
pilihan. Pun, dalam mencintai seseorang kita akan dihadapkan dengan berbagai
pilihan. Namun, satu hal yang perlu diperhatikan, sebagaimana sabda Rasulullah,
“Tidak ada yang lebih baik bagi mereka yang sudah saling jatuh cinta kecuali
pernikahan.” Lalu, sebagai perempuan bagaimana kita menyikapi hal ini? Apakah kita
harus melamar ‘doi’ duluan? Tapi kan malu! Secara dalam budaya kita, melamar si
laki-laki duluan adalah hal yang tabu. Bukan begitu? Nah loh, dilematis kan.
Sebenarnya dalam
Agama, kita (perempuan) sudah diberikan contoh oleh Allah melalui dua wanita
hebat sepanjang zaman, mereka adalah Ibunda Khadijah dan putri beliau, Fatimah
Az Zahra. Ibunda Khadijah memilih untuk menyuarakan perasaan cintanya terhadap
Rasulullah melalui temannya, Nafisah. Kemudian, Nafisah pun menemui Rasulullah
dan mengutarakan apa yang diungkapkan Ibunda Khadijah, serta meminta Rasulullah
untuk melamar beliau. Apa yang dilakukan Ibu Khadijah bukanlah suatu perbuatan
yang bisa dibilang tidak etis untuk dilakukan oleh kaum perempuan. Namun, apa
yang dilakukan Ibunda Khadijah adalah suatu bentuk ketegasan dan kejujuran
beliau akan perasaannya ketika beliau melihat keagungan sosok Rasulullah. Jadi,
sebenarnya dalam Islam pun, perempuan sah-sah saja untuk mengambil start duluan.
Selanjutnya,
contoh kedua adalah beliau putri Rasulullah dan Ibunda Khadijah, Fatimah Az
Zahra. Berbeda, dengan langkah ibunya dalam ‘menanggapi’ rasa cinta, Fatimah Az
Zahra lebih memilih ‘mencintai dalam diam’. Fatimah membiarkan Allah menjadi spasi
dan sutradara yang akan menuntaskan jalan cerita cintanya pada sahabat masa
kecilnya—Ali yang telah lama dipendamnya. Tak seorang makhluk pun, ia ceritakan
perihal rasa cintanya itu, bahkan kepada Baginda Rasulullah pun tidak. Fatimah
lebih memilih menyimpan rasa cintanya rapat-rapat dalam bilik hatinya. Bagiku,
pilihan Fatimah ini adalah pilihan yang begitu berat. Fatimah lebih memilih
mengambil resiko menanggung impitan gejolak cinta yang disimpannya rapi. Dia mengambil
langkah yang tepat, dengan menyertakan Allah dalam urusan cintanya. Berserah
sepenuhnya kepada Allah. Membiarkan Allah membolak-balik hati dan mengatur
setiap urusan sesuai kehendak-Nya. Memang, Allah adalah Sutradara Maha Elegan,
sekenario Allah terbukti skenario yang paling baik. Allah melabuhkan cinta
Fatimah di pelabuhan yang tepat.
Nah
selanjutnya, ada pernyataan lain dari Abi yang juga cukup menarik bagi saya
karena mengingatkan saya kepada (Almarhum) Guru spiritual saya, Bapak KH.
Mohammad Zaki. Pada pernyataannya, Abi mengatakan bahwa dalam berdoa kita boleh
menyebut langsung ‘nama’ orang yang kita cintai. Bukannya, saya tidak
sependapat (lagi) dengan pernyataan Abi, namun dalam hal ini, perbolehkan saya
untuk sedikit bercerita tentang pengalaman saya ketika saya masih ‘mondok’ dulu.
Ya, saya adalah salah satu santri di sebuah Pondok Pesantren di Tulungagung.
Semenjak saya masih SMA, bahkan sampai saat ini saya masih lah seorang santri,
hanya saja sekarang saya sudah tidak tinggal di asrama lagi. Dulu, sewaktu saya
duduk di bangku kelas 10, terjadi banyak sekali kasus terutama kasus ‘pacaran’ di
SMA. Seperti biasa, pasca libur lebaran dilakukan prosesi rutin, yaitu prosesi
pengakuan dosa. Dosa apa? ya dosa-dosa yang dilakukan santri-santri selama libur
lebaran. Dari prosesi itu, diperoleh banyak sekali ‘tersangka-tersangka’ baik
dari tindak kriminal tingkat teri, sampai tindak kriminal tingkat kakap (atau
bahkan paus). Kala itu, pacaran dan mencuri tergolong tindak kriminal tingkat
kakap. Tak tanggung-tanggung, hukuman dari pacaran adalah diarak dan karantina
kebersihan, ibadah, serta perizinan sampai 4 bulan. Weeew… sadis menurut gue. Nah,
kala itu kami para santri-santri SMA banyak terseret kasus pacaran ini (aku gak
termasuk sih, hiks atau yeay yaa?!). Hampir setiap hari di jam makan siang, kami
memperoleh tontonan gratis, yaitu prosesi pengarakan para ‘tersangka’ ini.
Melihat hal
ini, Bapak Guru (panggilan kami terhadap Bapak KH. Mohammad Zaki, pengasuh
Pondok—Rahmad Allah atas beliau) tidak tinggal diam. Pada malam Minggu, selepas
shalat isya beliau mengumpulkan seluruh santrinya dan membahas fenomena ‘luar
biasa’ ini (kambuh nih lebay!). Saat itu, beliau berpesan untuk mempersiapkan
jodoh sejak dini. Meskipun kami masih duduk di bangku sekolah, tetaplah kami
harus mempersiapkan jodoh sejak saat itu. Ya, karena dengan jodoh kita lah,
kita akan menghabiskan bahkan mungkin lebih dari separuh hidup kita. Arahan
beliau ini bukan berarti beliau memperbolehkan kami untuk pacaran, melainkan beliau
meminta kami untuk berpacaran dengan Allah. Satu hal yang sampai saat ini masih
membekas dalam ingatan saya, adalah ketika beliau berpesan untuk meminta dan membayangkan bagaimana (sifat atau
karakter) jodoh kita. Sebut semua kriteria pasangan yang kita inginkan, baik
dari segi agama, rupa, dan semua hal yang kita inginkan. Minta sebaik-baiknya
jodoh. Tidak perlu sebut nama dan membayangkan wajah orang yang kita sukai saat
ini dalam doa, karena belum tentu dia adalah orang terbaik untuk kita (menurut
Allah). Begitulah kurang lebih arahan beliau.
Semenjak saat
itu, saya mulai mempersiapkan bagaimana jodoh saya. Ya. Seperti arahan beliau,
saya meminta jodoh yang bla bla bla, tanpa menyebut siapa nama orang yang saya
ingin habiskan hidup saya dengannya di kemudian hari, meskipun pada saat itu
saya sudah menaruh hati pada tutor saya—sebut saja namanya Paijo. Mungkin ini
yang dinamakan cinta karena terbiasa, saya menaruh hati kepada Paijo lantara
kami terbiasa bersama, selain tutor di kelas, dia juga pelatih marchingband—brass
devision dan kebetulan saat itu saya adalah salah satu pemain brass (sebelum
saya berpindah ke lain hati eh lain alat). Saya mengidolakan ketegasannya. Selain
itu, saya sering bertukar pikiran dengannya berkenaan dengan program pondok,
cara berorganisasi, dan sebagainya. Jujur dan sangat menggelikan, dulu saya
sering menangis karenanya. Entah karena cemburu atau yang lainnya. Namun, satu
hal yang tetap saya pegang teguh adalah saya tidak pernah menyebutkan nama Paijo
dalam doa saya. Hingga pada suatu ketika, ada suatu peristiwa yang mana Allah
menunjukkan bahwa Paijo bukan orang yang tepat untuk saya. Seketika dengan izin
Allah perasaan saya pun luntur tehadapnya (mungkin karena gue masih ababil juga
kali yee…).
Meski jelek
begini, saya pernah sekali menjalin hubungan. Hanya sekali. Itu pun
hanya dalam kurun waktu 3 bulan (ahahahaha..) dan kami memutuskan untuk
mengakhiri hubungan kami. Sebenarnya, alasan utama saya adalah karena Bapak dan
Ibu tidak menyetujui hubungan kami, (meskipun saya tidak pernah mengatakan
kepada si mantan tentang hal ini). Kala itu, meski sudah beberapa kali bertemu,
tidak ada chemistry antara bapak, ibu dan si mantan. Jika jomblo adalah
sebuah penyakit. Dapat dikatakan bahwa saya adalah pasien jomblo akut.
Semasa studi
di Solo, saya sering berdebat dengan sahabat saya masalah jodoh, meskipun pada
akhirnya kami tetap teguh pada pendirian masing-masing. Kala itu, topik kami
adalah doa yang kemudian merembet sampai ke jodoh. Dia mengatakan bahwa tidak
ada manusia yang sempurna. Jangan mengejar kesempurnaan lalu meninggalkan yang
terbaik. Dia meminta saya untuk tidak terlalu pilih-pilih. Saya pun menyanggah
pendapatnya itu, “Aku gak pilih-pilih, cuma mau bagaimana lagi, masih belum ada
yang sreg di hati.” Kemudian dia menimpali, “Itu karena kamu terlalu menutup
diri. Coba deh buka hati kamu. Kamu turunin standart kamu. Jangan mengejar
kesempurnaan. Gak ada orang sempurna di dunia ini.” Entahlah, saya tidak terima
dengan saran itu. Bagi saya, kenapa kita harus meminta yang remeh-remeh padahal
sangat mudah bagi Allah untuk memberikan kita lebih. Bukankah segala yang ada di
langit dan di bumi adalah milik-Nya.
Saya selalu percaya
bahwa setiap peristiwa pasti memiliki tujuan dan pesan dari Tuhan. Terlepas dari
semua itu, entahlah, dari dulu saya meyakini bahwa siapa yang berjodoh pasti
akan merasakan chemistry tersendiri bahkan ketika pertemuan pertama
mereka. Menurut saya, itulah pesan dari Tuhan, yang kemudian akan dilanjutkan
dengan dukungan-dukungan semesta. Saya yakin semesta akan selalu berkonspirasi
untuk menyatukan saya dengan jodoh saya. Nothing to worry about. Jika memang seseorang entah di sana
adalah jodoh kita, pasti akan selalu muncul kebetulan-kebetulan yang telah
terskenario oleh Sang Sutradara Semesta.
Matahari 03,
25 Maret 2018.
waah, ya mbak secara diam2 emang menyakitkan sih, ungkapin aja biar lega haha sorry bercanda. but anyway, tengkyu mbak tulisannya. tercerahkan
BalasHapusAhahaha.. Biar Sang Sutradara semesta yang mengatur mas. Hihihi.. Dia tahu laah apa yg tersembunyi dalam hati setiap hamba-Nya.
HapusMantav mbak, jadi semakin betah ngejomvlo wkwkwkwk
BalasHapusAhahahaha.. Siiip adek. Jomblo sampe halal yaak... Wkwkwkw.. Anyway, tengkyu uda mampir.
Hapusguru b.inggris waktu smA bilang, "kalo kamu sampai nyebut nama dia, itu petanda kalo kamu maksa. Allaah udah terlanjur sayang dan kasihan sama kamu karena kamu udah nangis nangis berdoanya, yaa,,, akhirnya, dikasih deh jodoh yang kamu sebut dalam doanya. padahal Allaah sebenernya nyiapin seseorang yang paling terbaik, tapi apadaya...."
BalasHapus.
baca tulisan mbak berasa baca cerita sendiri. wkwkwkwk....
seriusan ini lho..... dari pemikirannya mbak juga, aku sependapat.
intinya, kalo ketemu sekali ada koneksi, dan ketemu dua kali ketahuan nggak ada intuisi, yooo,,,, laopooo,,,,
hidup intuisi.... yeeaahh...!!!!!!
Alhamdulillah deh kalo sependapat. Jangan lupa minta yg terbaik yaa.. Hihihi.. Iyaa elok, kalo jodoh pasti langsung kerasa feelnya. Btw, tengkyu uda mampir.
HapusMba, ceritanya mirip bgt dgku yg waktu dibilang suruh turunin standart dan bla bla bla. Hahaaa. Dan make sure sekarang menanti jodohnya dengan do'a seperti Fatimah dan Ali, karena saya sendiri tak seanggun dan sekuat Khadijah😅 wkwkwk jd kek curhat sayanya😂
BalasHapushehehe. semesta selalu punya cara. semoga kita tidak salah membaca sebuah tanda.
BalasHapusSemoga jodoh yg haq segera datang ya say. (doa berjamaah para jomblo).
BalasHapusAamiin
Semoga jomblo segera dapat pengakuan dari UNESCO sebagai salah satu "Living cultural heritage" ekwk.. Btw nais post... Tingkatkan kualitas diri, dan semua akan indah pada waktunya *katatetanggasebelah
BalasHapus