Balada UNBK dan Depresi Siswa
Akhir-akhir ini aku mendapat hiburan gratis dari membaca status Whatsapp
beberapa teman yang berisi screenshot komentar siswa-siswa SMA tentang sulitnya
soal UNBK (terutama pada Mata Pelajaran Matematika, Fisika, Kimia) dan depresi
mereka yang dibalut dengan kata-kata dan candaan kocak. Ternyata,
komentar-komentar itu sudah viral pada beberapa hari belakangan (akunya aja
yang kudet!). Aku kadang berpikir kalau komentar itu hanya settingan sekedar
sebagai penghibur masyarakat dunia maya, karena kurasa candaan itu terlalu ‘kreatif’
untuk anak-anak yang berstatus pelajar. Namun, lagi-lagi dugaanku salah,
candaan itu memang benar adanya (inilah the power of kids jaman now!).
Banyak media yang memberitakan begitu sulitnya UNBK tahun ini, sampai-sampai
banyak siswa yang down dan tidak bersemangat lagi untuk mengikuti ujian di
hari berikutnya.
Berbicara mengenai UNBK, memang UNBK dibuat bukanlah sebagai penentu
kelulusan siswa, melainkan sebagai pengukur kemampuan dan kejujuran siswa,
serta sebagai evaluasi pembelajaran yang selama ini diterapkan di sekolah.
Dengan kata lain, UNBK dilakukan untuk mengukur tingkat keberhasilan guru dalam
mengajar siswa di jenjang pendidikan terkait. Oleh sebab itu, soal pada UNBK
dibuat sedemikian rupa sehingga soal tersebut dapat benar-benar mengukur
kemampuan berikir siswa, khususnya kemampuan berpikir kritis.
Saya rasa tujuan itu tidaklah salah, namun izinkan saya memberi highlight
pada tujuan UNBK yaitu untuk mengukur keberhasilan guru dalam mengajar siswa.
Jika kita telaah lebih dalam, selain faktor lingkungan sekolah dan guru, ada
banyak faktor yang juga mempengaruhi keberhasilan pembelajaran dalam kelas yang
selanjutnya akan berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan di negeri ini, faktor
tersebut diantaranya: motivasi dari diri siswa itu sendiri, lingkungan di mana
dia tinggal sehari-hari, dukungan orang tua sebagai role model,
teman-teman bergaul mereka, gadget, dan masih banyak lagi faktor yang
lain.
Mungkin saya masih terbilang amatir dalam berkecimpung di dunia
pendidikan, sehingga ilmu saya sangatlah terbatas mengenai pendidikan. Namun,
izinkan saya untuk menyampaikan perspektif saya mengenai pendidikan. Sebenarnya,
pendidikan itu bukan hanya terkait dengan kemampuan akademik. Pendidikan
mencakup hal yang lebih luas. Mengajar adalah mendidik, tapi mendidik bukan
hanya mengajar. Jika dalam teori himpunan, mengajar adalah subset dari
mendidikan, tapi mendidik bukanlah subset dari mengajar. Sehingga mendidik
tidak sama dengan mengajar, melainkan mendidik mencakup hal yang lebih luas
daripada mengajar. Dengan demikian, tolok pengukur keberhasilan pendidikan
bukan hanya terbatas pada tolok ukur keberhasilan mengajar.
Tolok ukur keberhasilan pendidikan sebaiknya bukan hanya berdasarkan
dari hasil ujian-ujian berbasis tes pada setiap jenjangnya seperti UNBK, UASBN,
atau tes-tes yang lain, namun keberhasilan pendidikan juga perlu dilihat dari
kualitas diri masing-masing siswa, sepeti bagaimana mereka menghayati
pendidikan itu sendiri, bagaimana mereka merasa butuh akan pendidikan,
bagaimana pandangan dan tujuan atau cita-cita mereka kedepan melalui pendidikan
yang telah mereka ambil, bagaimana mereka akan berkontribusi kepada masyarakat
dan negaranya melalui pendidikan mereka, dsb. Perubahan mental inilah yang
lebih utama menurut saya terkait impact pendidikan yang seharusnya. Namun,
entah mungkin pengamatan saya yang salah, saya merasa perubahan mental ini
masih lah jauh dari harapan. Meskipun slogan ‘revolusi mental’ dan sebagainya begitu
menggema di telinga.
Sering kali saya bertanya-tanya, apa yang salah dengan pendidikan di
negeriku ini. Kurikulum pendidikan pun selalu ditinjau ulang dan dilakukan
perbaikan-perbaikan. Namun, pada praktiknya masih begitu banyak permasalahan
dalam pendidikan. Jika dipereteli satu persatu? ah sudahlah, jangan
ditanyakan lagi! Mungkin bahasan tentang permasalahan itu akan menjadi buku
dengan ratusan halaman.
Dalam tulisan ini izinkan saya
mengutarakan uneg-uneg saya terkait pendidikan. Pendidikan adalah suatu
proses mental yang berkesinambungan yang terjadi dalam diri seseorang yang
mengakibatkan adalanya perubahan pola pikir dan perilaku ke arah positif. Saya merasa
pemerintah masih terlalu fokus dalam mengejar prestasi di bidang kognitif akademik,
terutama dalam kancah internasional (seperti PISA, TIMMS, Olimpiade, dsb). Berbagai
usaha di sektor-sektor pendidikan dilakukan untuk meningkatkan peringkat Indonesia
yang selama ini masih tertinggal dari negara-negara lain. Hal ini mengakibatkan
siswa-siswa diberondong dengan materi-materi yang luar biasa banyak. Bahkan sejak
mereka masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak mereka sudah belajar membaca dan
menulis, ada juga yang sudah belajar perhitungan sederhana seperti penjumlahan
dan pengurangan. Ya, hampir sebagian besar TK terutama di daerahku sudah mengajarkan
‘calistung’ kepada siswa-siswa mereka. Entah, sepertinya masyarakat begitu
menggandrungi kecerdasan IQ, dan melupakan dua kecerdasan lainnya, yaitu EQ dan
SQ.
Salah satu fenomena yang kerap ku lihat desaku adalah banyak sekali
ibu-ibu muda yang sudah menitipkan anak mereka yang bahkan masih duduk di
bangku kelas satu SD untuk mengikuti bimbingan belajar. Memang hal ini tidak
ada salahnya, namun menurut saya justru masa-masa TK dan SD itu adalah masa-masa
emas dimana pembiasaan dan penguatan karakter seharus lebih ditekankan. Pada masa
ini siswa tidak perlu diberikan begitu banyak materi di sekolah apalagi
ditambah dengan bimbingan belajar di luar sekolah, melainkan diperlukan penanaman
disiplin, sopan santun, tanggungjawab, kerjasama, toleransi, cinta tanah air, dsb
melalui aktivitas-aktivitas sederhana yang biasa mereka lakukan. Sebagai
contoh, jika sekolah tersebut memiliki lahan kosong siswa-siswa dapat diberikan
kesempatan dan tanggungjawab untuk bercocok tanam dari proses awal penanaman,
perawatan, sampai masa panen tiba. Ketika tiba masa panen, hasil dari bertaman
tersebut dapat dinikmati oleh seluruh siswa. Selain itu, saya rasa pembelajaran
akan lebih bermakna ketika proses belajar tersebut terjadi secara santai, namun
tanpa disadari siswa sudah mempelajari banyak hal. Sebagai contoh penambahan-penambahan
properti berupa vocab-vocab yang ditempelkan pada benda-benda di sekitar
siswa, seperti kata ‘table’ untuk ditempelkan pada meja, yang mana
ketika siswa melihat benda tersebut siswa akan membaca dan secara tidak sadar perbendaharaan Bahasa Inggris siswa akan
bertambah.
Penanaman karakter itu pun bukan hanya tanggung jawab guru dan sekolah
saja, melainkan perlu adanya contoh dari orang tua. Suatu cerita, ada seorang
siswa yang bermasalah. Karena perilaku siswa tersebut, akhirnya pihak sekolah
memutuskan untuk memanggil orang tuanya. Sungguh di luar dugaan. Dengan jujurnya,
siswa tersebut mengatakan keburukan ayahnya yang tak jauh berbeda dengan dia di
depan guru-guru yang ada dalam ruangan tersebut. Para guru pun diam-diam terkekeh. Apalagi ayah siswa itu. Jangan tanyakan betapa memerah raut wajahnya. Dari hal ini, kita sebagai calon orang tua dapat bercermin, bahwa hal sekecil
apa pun, yang mungkin kita anggap sepele akan menjadi contoh bagi anak-anak
kita. Orang tua dan lingkungan keluarga adalah madrasah utama dan pertama anak-anak.
Pasalnya, sebelum anak-anak mengenal lingkungan sekolah dan masyarakat, pasti mereka
akan berinteraksi dalam lingkungan keluarga terlebih dahulu. Dari sini
komunikasi antar orang tua dan anak sangatlah penting.
Selanjutnya, sebagai pendidik kita pun perlu merefleksikan diri. Kita perlu
berbenah, sudah pantaskah kita menjadi panutan. Bagaimana sikap kita dalam
memperlakukan siswa-siswa kita. Karakter apa yang telah kita tanamkan dan contohkan kepada
siswa-siswa kita. Karena terkadang tanpa kita sadari, ada banyak
perilaku-perilaku kecil kita yang secara tidak langsung dapat berdampak pada
siswa. Sebagai contoh saja, suatu ucapan. Betapa kuat energi dari suatu ucapan
itu. Bahkan tidak sedikit tindak kriminal yang bermula dari tajamnya suatu
ucapan. Di samping itu, bukankah ucapan adalah doa? Jangan sampai sebagai
pendidik—sebagai pengganti orang tua, kita mendoakan hal-hal yang tidak baik
kepada siswa kita. Karena bisa jadi, perilaku siswa yang kita rasa tidak
semestinya adalah salah satu akibat dari kesalahan-kesalahan kita yang entah dangan sadar atau tanpa sadar dalam
mendidik mereka di masa-masa sebelumnya.
Ah memang perihal pendidikan tidak akan ada habisnya untuk dikuliti. Selalu
ada bagian yang perlu ‘ditambal’ di sana-sini. Semoga sebagai pendidik kita
bisa memberikan kontribusi yang berarti dalam penanaman karakter kepada anak
bangsa. Terakhir, untuk ‘anak-anakku’ siswa SMP. Selamat mengukir masa depan. Selamat
berjuang untuk UNBK esok hari. Jadikan ujian sebagai saranamu untuk belajar,
bukan belajar untuk ujian! Karena, kelak akan kau dapati ujian-ujian kehidupan yang lebih hebat, yang
dikhususkan Tuhan untuk membesarkan dan menghebatkan dirimu.
Di izinkan kok... Wkwk tulisan kamu kebanyakan minta izin ah... Btw that's the truth... Emang pendidikan kita ini terlalu menekankan aspek "kasarnya".. Bahkan dari prioritas list LPDP pun demikian...hard science yang diutamakan, soft science malah di kesampingkan... Padahal kalo revolusi mental, ya kudu mental yang di olah hwhwk
BalasHapus