Cerita yang Terserak (atau Sengaja Diserak?)



Tema tulisanku kali ini bukanlah curhatan receh tentang diriku, seperti yang kutulis pada tulisan-tulisanku sebelumnya. Kali ini, aku akan menuliskan sedikit tentang sejarah. Aku memang tidak mengetahui banyak tentang sejarah. Terlebih basic pendidikanku juga bukanlah sejarah. Namun, ada banyak pertanyaan yang berjejalan tentang sejarah dalam benakku. Terutama ketika aku mengetahui ada perbedaan yang begitu mencolok antara sejarah yang selama ini kupelajari di bangku sekolah dengan apa yang kudengar dari cerita kakek tua itu. Ya, beliau adalah kakek tua yang berusia kira-kira hampir 80 tahun. Panggil saja beliau Mbah No.
Sebenarnya, Mbah No melarangku untuk menceritakan apapun tentang apa yang telah beliau ceritakan padaku, meskipun kepada keluarga beliau (maaf Mbah No, aku mengingkari janjiku!). Pasalnya, tidak kepada seorang pun beliau ceritakan terkait hal ini. Bahkan istri dan putra-putri beliau tidak mengetahui akan apa yang beliau alami 51 tahun silam. Ya, beliau mengubur masalah dan kenangan pahit beliau seorang diri. Ah, lelaki memang terlalu hebat dalam menyembunyikan perasaannya!
Kala itu aku pulang cukup larut, lantaran bus yang kunaiki sepulang dari kampus terjebak macet panjang karena perbaikan jalan. Aku tiba di rumah beliau sudah lebih dari pukul 10 malam. Ya, aku menginap di rumah beliau selama hampir 2 bulan atau selama pengambilan data untuk tugas akhirku dapat kuselesaikan. Sungguh betapa terhuranya aku (eaak, lebay!) beliau menungu kedatangku, padahal biasanya pukul 7 atau pukul 8 malam beliau sudah tidur. Beliau membukakan pintu dan memintaku untuk segera makan malam. Aku pun menyiapkan makan malam dan menyeduh teh tubruk panas. Dari gelas besarku, asap mengepul menebar aroma teh dan melati yang begitu tajam (uweenaak tenaaan!).
Beliau menemaniku makan dan bercerita banyak hal. Aku menyukai semua yang beliau ceritakan. Beliau adalah seorang petani, namun beliau sungguh berbeda dengan petani-petani yang kuketahui pada umumnya. Pengetahuan beliau sungguh luas, terutama terkait sejarah Indonesia. Beliau banyak menceritakan kehebatan Presiden Soekarno baik di mata rakyat Indonesia sendiri sampai di mata negara-negara mancanegara. Bahkan, menurut beliau Amerika pun segan kepada Presiden Soekarno kala itu. “Sebenarnya, tambang emas di Papua, yang sekarang ada Freeport itu sudah dilirik Amerika sejak masa Bung Karno, namun karena prinsip Bung Karno adalah ‘Berdikari’—beridiri dengan kaki sendiri, Bung Karno menolak tawaran Amerika untuk bekerja sama untuk mengelola tambang emas  itu Bung Karno sangat yakin suatu saat nanti, rakyatnya akan bisa mengelola tambang tersebut, secara mandiri tanpa bantuan dari negara manapun. Namun sayang, belum sampai harapan Bung Karno tersebut terwujud, Amerika sudah terlebih dulu, ‘menangani’ tambang emas itu. ” Jelas Mbah No. Bagiku, beliau sangat piawai dalam bercerita. Pun, terkadang di sela-sela ceritanya diselipkan candaan-candaan konyol yang membuatku terkekeh. Pantas saja pengetahuan beliau begitu luas, selidik punya selidik, sebenarnya dahulu beliau adalah guru SD, namun entah karena apa, beliau ditipu, dan ijasah beliau dicuri sehingga beliau tidak bisa lagi mengajar.
Berawal dari cerita kehebatan Presiden RI pertama, cerita beliau mengalir sampai kepada tragedi G 30 S PKI. Beliau mengatakan bahwa PKI bukanlah partai yang ‘berhianat’ sebagaimana yang dituliskan dalam buku-buku sejarah. “PKI itu bukanlah partai yang anti-Pancasila, tidak bertuhan, dan kejam seperti kabar yang banyak beredar saat ini. PKI itu adalah partai yang berdasarkan paham Komunisme yaitu paham yang menolak kapitalisme atau kepemilikan perseorangan. Anggota PKI juga banyak yang Islam. PKI tidak pernah melarang anggotanya untuk tidak bertuhan.” Jelas beliau. Aku melongo, terserap dengan cerita beliau. “PKI itu sangat nasionalis, lha wong sebelum menjadi anggota PKI, calon anggota harus dididik baik dari segi kedisiplinan sampai pengetahuan tentang Kewarganegaraan. PKI itu adalah partai yang beranggotakan para petani dan orang-orang kecil, bagaiamana bisa orang-orang kecil berhianat? Justru, jendral-jendral itu yang hendak mengkudeta Presiden Soekarno. PKI membunuh mereka sebagai tindakan antisipasi sebelum mereka benar-benar mengkudeta Presiden Soekarno.” Sambung beliau dengan nada lirih dan sedikit berbisik.
Namun, semenjak kejadian 30 September itu, seolah kebenaran menjadi berbalik. PKI yang sebenarnya adalah pro-Soekarno seolah-olah menjadi musuh negara yang harus dibasmi sampai ke akarnya. Semua orang-orang yang terkait dengan PKI harus diberantas. Sampai-sampai anggota keluarga dan keturunan PKI sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan kala itu. Bahkan, Mbah No yang notabene bukanlah anggota PKI menjadi korban dari kebijakan penerintah tentang PKI tersebut. Ketika istri beliau yang tengah hamil tua putri ketiga mereka, beliau ditangkap, dipenjara dan disiksa selama beberapa bulan. “Seandainya tidak ada banjir kala itu, aku pasti sudah mati.” Tandas beliau. Ya, karena kuasa Allah banjir datang sebelum jatuh giliran Mbah No untuk dieksekusi. Beliau bersama beberapa tahanan lainnya berhasil meloloskan diri. Namun, beliau tidak serta-merta pulang ke rumah beliau. Beliau harus bersembunyi di suatu tempat, hingga situasi benar-benar kondusif.
“Aku tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun, kecuali kamu, nduk. Bahkan, istri dan anak-anakku tidak kuceritakan sama sekali. Kamu jangan bilang ke mbah putri dan ke siapa-siapa yo nduk. Cerita ini buatmu saja.” Pinta beliau.
“Lha kenapa, Mbah? Padahal mbah putri lho salah sangka sama panjenengan mbah. Sampai sekarang, beliau sakit hati karena panjenengan mboten menemani kelahiran Bu Tri, putri panjenengan. Padahal kan panjenengan sebenarnya juga sedang dalam masalah kala itu, Mbah. Menurutku, mbah putri harus tahu.” Jelasku.
Yo wis bene, nduk. Ora papa! Biar waktu nanti yang menjawab kebenaran tentang sejarah. Entah kapan, kebenaran iku mesti terungkap. Becik ketitik olo ketoro.”
Malam itu, perbincangan kami terjadi begitu lama. Aku mendengar ‘kepingan’ sejarah dari sumber lisan yang begitu bertolak belakang dengan cerita dalam sejarah yang kupelajari selama ini. Pikiranku kembali ke masa beberapa tahun lalu, ketika guru PPKN semasa SMP ku mengatakan bahwa sejarah kita saat ini adalah sejarah yang (sudah) diselewengkan. Aku merasa cerita Mbah No ini sejalan dengan pernyataan guruku tersebut. Tapi entahlah, bukankah kita tidak boleh berasumsi tanpa dasar yang kuat?
Aku menyadari bahwa apa yang kutulis ini bukanlah argumen yang kuat, karena hanya berpijak pada satu subjek saja. Terlepas bagaimana kebenaran dari ‘kepingan sejarah lisan’ versi Mbah No yang kutulis ini, harapanku adalah semoga kelak, entah kapan ada seseorang yang membaca tulisanku dan melalui tulisan jelek ini dia tertarik untuk mengkaji lebih lanjut tentang keberanaran sejarah yang 'terserak' atau 'sengaja diserak' ini. Sehingga, ‘kebenaran’ yang juga diharapkan oleh Mbah No (entah itu sesuai dengan penjelasan beliau atau tidak) dapat terungkap. Amiin.
Karena kebenaran haqiqi hanya bersumber dari Allah, sudilah kiranya teman-teman untuk memaafkan apabila ada perbedaan sudut pandang atau penjelasan dari tulisanku ini. At least, tengkyu gaes, udah mampir dan meninggalkan jejak!

Note: karena keterbatasan ilmuku, jika kalian mempunyai komentar-komentar pedas atau sudut pandang lain terkait tulisan ini, amat sangat dipersilakan untuk disisipkan di kolom komentar. Tengkyu… :) :) :)

Komentar

  1. Perihal PKI, memang sesuatu yang sangat multitafsir... Banyak orang yang bilang ini itu sesuai dengan data dan kepercayaan masing-masing... Bahkan kabarnya untuk misi "membersihkan" bekas PKI ini, jumlah korbannya lebih banyak daripada perang dunia... Wew... Coba baca novel "ronggeng dukuh paruk" ato dokumenter "senyap" banyak hal baru disana
    Nice post...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaap, butul sekali. Saking banyaknya sudut pandang, jadi bingung sendiri. Btw, thanks sarannya mas bro. Klo punya bukunya, pinjem boleh dong.. Wkwkw..

      Hapus
  2. d negri ini, banyak hal yg mesti d ungkap zahra, mari kita luaskan pandangan agar tidak mudah menjatuhkan kesimpulan yg bersifat radikal nihilis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siiipp.. Betul sekali mas said. Harus memperluas sudut pandang. Karena semakin kita melihat dari bnyak sisi, semakin detail apa yg kita sebenarnya kita lihat. #halah.. Suwun mas. Tercerahkan!

      Hapus
  3. Mbak, prihal sejarah selalu mampu menarik perhatianku, tapi aku sedang tidak ingin berbicara manakah cerita yang benar atau salah, karena selama ini sejarah di negeri kita ini memang sengaja diceritakan dan diciptakan sedemikian rupa untuk kepentingan tertentu. Semoga kita selalu menjadi bijak dalam bersikap!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertunjukan Bayang-bayang

Pohon Pisang

Penyesalan