Macapat
Tulisan ini bukan bermaksud menggurui. Ah, apalah aku yang miskin ilmu
ini yang notabene bukanlah seorang sastrawan, penggiat budaya, tokoh agama atau
malah seorang filsuf. Tulisan ini masih sangat jauh dari penggambaran yang epik
tentang mahakarya agung Sang Wali Allah.
Harusnya, aku memposting tulisanku pada tanggal 1April kemarin, namun
karena adanya sesuatu untuk kulaksanakan terlebih dahulu dan juga miskinnya aku
akan ide tulisan, aku baru bisa memposting tulisan hari ini. Itu pun
sebelumnya, harus melalui proses ketik-hapus, ketik-hapus terlebih dulu. Sampai
akhirnya, aku menyerah dan mendatangi Bapak untuk meminta ide tulisan untuk
kutuliskan di blog ini kepada Beliau. Bapak terdiam sejenak—berpikir, dan kemudian bercerita tentang
tembang macapat. “Tembang macapat itu gubahan Walisongo, terdiri dari 11
tembang yang kesemuanya adalah fase-fase kehidupan manusia dari dalam kandungan,
menikah, sampai kematian.” Kata Bapak. “Setiap orang memiliki banyak pendapat
terkait urutan tembang macapat ini. Bapak sendiri memandang tembang macapat
dari segi rohani keagamaan.” Sambung Bapak.
Kehidupan manusia diawali dari suatu kelahiran. Dalam tembang macapat,
ada salah satu tembang yang dinamakan Mijil. Mijil berarti ‘metu’ atau lahir. Filosofi
tembang Mijil ini menggambarkan kelahiran seorang bayi ke dunia. Masa-masa
dimana manusia yang siapapun itu mulai membuka mata, masih begitu lemah, suci, dan
membutuhkan perhatian serta kasih sayang. Sehebat apapun seseorang, awalnya
adalah seorang yang lemah dan membutuhkan bantuan dari orang lain.
Setelah kelahirannya, sang jabang bayi membutuhkan kasih sayang dan
perawatan ibunya sampai dia mulai menginjak usia muda. Dalam tembang macapat,
fase ini digambarkan dengan Tembang Sinom yang berarti ‘bocah enom’. Masa muda
adalah masa yang penuh pengharapan, cita-cita, dan pencarian ilmu untuk
mewujudkan cita-cita. Masa muda inilah adalah masa emas di mana selayaknya
manusia masih ‘kuat-kuatnya’ dan penuh semangat untuk menggapai cita-cita.
Pada masa muda pun tumbuh benih-benih asmara dalam diri manusia. Dalam tembang
macapat, Tembang Asmaradhana mengambarkan fase ini. Tembang Asmaradhana berasal
dari kata ‘asmara’ dan ‘dhana’ yang berarti ‘cinta’ dan ‘api’. Sesuai
kodratnya, manusia mulai tumbuh rasa cinta terhadap lawan jenisnya. Tembang ini
menggambarkan masa-masa di mana manusia tengah dirundung cinta dan
ditenggelamkan dalam lautan kasih sayang.
Setelah mengarungi fase-fase berbunga-bunga dalam percintaan, akan
tumbuh keinginan untuk saling membersamai, komitmen untuk berumah tangga, dan bergandengan
tangan dalam mengarungi manis getir pernikahan. Tembang Kinanthi menggambarkan
fase ini. Kinanthi berasal dari kata ‘kanthi’ yang berarti bergandengan. Dengan
kata lain, tembang kinanthi menggambarkan suatu komitmen untuk terus bergandengan,
bersama, dan saling menghebatkan satu dengan yang lain.
Adapun dalam kehidupannya, manusia dididik Allah dengan berbagai situasi,
baik situasi susah maupun senang. Tembang Dhandhanggula adalah gambaran dari
kehidupan yang mengalami masa pahit dan manis. Dhandhang menggambarkan ‘pahit’
dan gula menggambarkan ‘manis’. Dhandanggula menggambarkan proses penempaan Allah
terhadap hamba-hambaNya.
Durma adalah maju mundur ing pangrasa. Setelah manusia dididik Allah
dengan pahit dan manis kehidupan, melalui tafakkur, dia akan bisa menghayati
hakikat kehidupan, bertambah kualitas pemikirannya, hidup dengan rendah hati,
dan kehidupannya dipenuhi dengan perbuatan-perbuatan baik. Durma bisa berarti
darma atau bhakti. Dengan kata lain durma adalah baktinya seorang manusia
kepada kehidupan yang diwarnai dengan selalu berbuat baik kepada alam dan sesama.
Pangkur adalah mungkurake urusan duniawi. Manusia yang sudah mencapai
tahap ini tidak lagi berorientasi pada hal-hal yang bersifat keduniawian. Hidupnya
meninggalkan nafsu-nafsu negatif yang hanya akan mengotori jiwanya. Setelah
meninggalkan segala hal yang bersifat keduniawian, maka hati akan merasa damai.
Hati akan peka dalam menangkap pesan-pesan Allah. Mata akan mudah meneteskan
air mata kebahagiaan. Fase ini digambarkan dengan tembang macapat Maskumambang.
Karena hatinya telah bersih, tiada lagi tabir yang menghalanginya dari
Sang Pencipta. Segala perbuatan akan sesuai dengan batinnya. Dengan kata lain,
pada fase ini akan tercipta kecocokan antara lahir dan batin seseorang. Dalam tembang
macapat, fase ini digambarkan dengan tembang gambuh, yang berarti ‘cocok’ atau kesesuaiaan
antara lahir dan batin seseorang.
Fase kehidupan manusia berikutnya adalah lepasnya ruh dari raga. Dalam tembang
macapat difilosofikan dengan tembang megatruh, yaitu megating ruh. Jika manusia
sudah berada pada tahap gambuh, yaitu telah tercipta kecocokan antara lahir dan
batin dia tidak akan takut akan kematian. Segala persiapan untuk bersua dengan
Gusti Pemiliki Kehidupan sudah dipersiapkannya.
Fase setelah megating ruh atau putusnya ruh dari raga manusia, adalah
kematian yang dilambangkan dengan pucung atau pocongan. Dalam fase ini tidak
ada lagi yang bisa dilakukan manusia. Tidak siapa pun yang bisa membantu
kecuali 3 hal, yaitu anak solih/soliha, ngilmu misil (ilmu manfaat), dan
sodaqoh jariyah yang ikhlas.
Aku begitu tertarik dengan filosofi tembang macapat ini. Betapa lembutnya penyebaran
agama Islam dalam masa Walisongo. Para wali menyisipkan filosofi rohani ke
dalam mahakarya-mahakarya hebat seperti tembang macapat ini. Satu hal yang
menarik perhatianku adalah cara para wali dalam menyampaikan kebenaran. Cara beliau
sungguh elegan dan lembut, tanpa
menyakiti masyarakat yang mayoritas belum memeluk Islam kala itu. Sejurus timbul penyesalanku, kenapa dulu ketika aku diajari bapak nembang aku gak
pernah mau. Maklum lah yaa, suara fals bin sumbang minta ampun begini.
bapakmu suka macapat? keren...
BalasHapusmacapat hari ini menjadi langka kita temukan, padahal macapat adalah warisan sastra lisan para leluhur kita dalam menjelaskan hidup yg otentik. suka.
Bapakku guru bahasa Jawa, sampingannya dalang. Klo jnengan ada hajatan bisa laah kontak saya sbg manager beliau.. Ahahaha..
Hapus