MATEMATIKA



Mari sejenak kita melompat ke dimensi waktu beberapa tahun lalu. Ketika kita dituntut untuk menguasai seluruh mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Ketika ukuran kecerdasan seseorang masih sebatas nilai-nilai yang ditulis di rapot. Aku ingin tahu, kira-kira mata pelajaran apa yang kamu benci? Well, izinkan aku untuk menebaknya. Mungkinkah kamu akan menjawab Matematika, Fisika, atau Kimia? Entahlah, aku merasa bahkan sampai sekarang ini ketiga mata pelajaran itu khususnya matematika menjadi ‘juara bertahan’ mata pelajaran yang paling ditakuti siswa (semoga saja tebakanku ini salah). Walaupun sekarang ini banyak sekali teori dan kajian yang berkembang berkenaan dengan kecerdasan manusia, namun kebanyakan masyarakat awam masih beranggapan bahwa ukuran kecerdasan seseorang dapat dilihat dari nilai matematikanya. Jadi, jika nilai matematikamu A beranti dapat dikatakan bahwa kamu orang yang cerdas. Sayangnya, anggapan ini tidaklah benar (menurutku) meskipun aku adalah seorang guru matematika. Bukankah kecerdasan manusia itu majemuk? Setiap manusia pastinya memiliki keunikan dan ‘permata’-nya masing-masing.
Banyak orang tak menyangka bahwa aku adalah mantan mahasiswa matematika. Entah, apa karena perilakuku yang tidak mencerminkan orang matematika, seperti; cerewet, rempong, jahil, suka bercanda, terkadang emosional dan suka meledak-ledak yang sama sekali tidak identik dengan mahasiswa eksak pada umumnya yang lebih cenderung serius dan tak banyak omong. Tapi, yaa biarlah orang menilaiku dengan kacamata mereka. Meskipun begitu, sebagai seorang jomblo aku mencintai diriku sendiri apa adanya (hahaha).
Sejujurnya, pada awalnya memang tak ada keinginanku untuk mengambil jurusan matematika, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang dokter. Bahkan sampai saat ini pun aku masih tertarik dengan dunia kesehatan, meskipun aku sudah tidak mungkin lagi untuk menjadi dokter (Ah, sudahlah! biar aku menjadi dokter bagi keluargaku nanti, eaaaakk). Ada satu alasan yang membuatku banting setir hingga aku berkecimpung dengan dunia matematika, khususnya pendidikan matematika ini. Namun, aku tidak akan menceritakan alasan ini, karena akan cukup panjang jika diceritakan. But, however life must go on, isn’t it? Setidaknya, karena hal ini aku dididik Allah untuk selalu mengingat bahwa apa yang kita anggap terbaik untuk kita, belum tentu terbaik untuk kita dalam prespektif Ilahi.Well, sebenarnya poin dalam tulisanku ini bukanlah curhatan receh tentang masa laluku, melainkan tentang matematika dalam kacamata orang bodoh sepertiku. Okay, let’s start the poin!
Berbicara tentang matematika. Sering kali aku mendapat pertanyaan, ‘sebenarnya matematika itu fungsinya untuk apa?’ Toh materi-materi seperti limit, integral, turunan, trigonometri tidak ada kaitannya dengan kehidupan. Belum lagi materi yang lebih abstrak yang, seperti analisis real, teori bilangan, struktur aljabar, geometri euclid, geometri transformasi, kalkulus, dsb yang hanya akan menambah beban pikiran dan menurunkan berat badan manusia. Pun, jika aku ditanya, apakah aku menguasai materi-materi itu, dengan mantap aku akan menjawab yo jelaass, jelaass gak mudeng e!
Sedikit cerita, ketika studi lanjutku aku bukanlah mahasiswa yang menonjol di kelas. Tapi aku termasuk mahasiswa yang bisa dibilang sedikit jujur. Lebih baik aku mendapat nilai C tapi dengan buah pikiranku sendiri daripada aku mendapat nilai A tapi dari buah lirik sana lirik sini. Alhasil, aku harus mengulang 3 mata kuliah sekaligus pada semester berikutnya (harusnya aku mengulang 4 mata kuliah sih sebenarnya, yang satu aku biarkan saja sebagai variasi nilai di transkripku). Awalnya, ada masa-masa di mana aku merasa kacau, tertekan, down, dan putus asa. Namun, memang sejak awal aku melanjutkan studi, Bapak sudah berpesan bahwa segala hal yang kita lakukan jangan sampai sepi dari niat. Niatku kala itu adalah benar-benar untuk menuntut ilmu, bukan untuk mencari jodoh atau yang lain (makanya aku tetep jomblo aja, #eh). Aku memang sering menangis karena kegagalanku kala itu, semata-mata agar aku bisa merasa lebih baik. Aku pun mencoba untuk tidak mengutuki kegagalanku, satu sisi karena aku bukan tipikal orang yang terlalu pemikir (abis nangis ya udah kembali lagi seperti semula) dan satu sisi aku ingat pesan Bapak. Mungkin kegagal ini adalah salah satu cara Allah mendidikku, karena niat awalku memang untuk menuntut ilmu. Benar saja, dalam setiap situasi Allah pasti akan memberikan pengajaran kepada siapapun yang mau belajar. Berawal dari kegagalan itu passionku tentang matematika mulai meningkat (loh, kok curcol lagi!).
Oke deh, kembali ke topik ‘apa sih fungsi dari matematika itu sendiri?’. Jika kita pandang sekilas mungkin kita tidak akan menemukan jawaban kecuali untuk ‘mengasah otak’, karena yaa memang matematika identik dengan pemikiran meskipun sebenarnya ada dan banyak sekali konsep-konsep matematika yang sudah diadaptasi dalam ilmu terapan. Tapi, jika kita menelisik lebih dalam lagi, matematika mengajarkan kita banyak nilai. Mulai dari konsistensi, kejujuran, kedisiplinan, kebebasan, tanggung jawab, kesederhanaan, bahkan dengan matematika kita bisa mengenal Tuhan. Yakin? Iya dong.
Baiklah, izinkan aku yang miskin ilmu untuk menceritakan prespektifku tentang matematika itu sendiri. Sebagaimana yang pernah kupelajari, bahwa dalam matematika ada suatu unsur dasar yang dinamakan dengan aksioma, kalau unsur itu merupakan suatu pernyataan maka disebutlah sebagai definisi. Aksioma atau definisi tidak perlu dibuktikan kebenarannya, karena sudah disepakati bahwa aksioma dan definisi itu bernilai benar. Selanjutnya, dari definisi dan aksioma itu dapat diturunkan menjadi teorema-teorema. Nah, teorema ini lah yang perlu diselidiki dan dibuktikan kebenarannya. Dalam proses pembuktiannya pun tidak boleh asal-asalan harus didasari oleh definisi atau teorema lainnya yang tentunya sudah terbukti kebenarannya. Dalam hal ini matematika menuntut suatu proses yang mana merupakan cerminan kedisiplinan, konsistensi dan keteraturan, karena pada setiap pengambilan ‘keputusan’ dalam matematika haruslah dilandasi ‘pijakan’ yang kuat. Seberapa kuat pijakan itu? suatu 'pijakan' dalam matematika dikatakan kuat apabila pijakan itu telah terbukti kebenarannya. Bukankah, kita juga tidak boleh serta merta menyatakan atau memutuskan sesuatu tanpa didasari bukti atau alasan yang kuat apalagi jika tanpa dasar?
Selanjutnya, matematika juga mengajarkan kebebasan. Kita bebas menentukan cara apa yang akan kita ambil untuk mencari suatu solusi dari suatu permasalahan (dalam matematika tentunya). Namun, satu hal yang harus diingat adalah bahwa kebebasan itu sendiri tidaklah ‘mutlak’ artinya meski bebas tetap kembali lagi harus didasari dengan ‘pijakan’ yang kuat. Dalam matematika ada pertanyaan yang bernama open ended question. Pertanyaan ini memiliki lebih dari satu cara atau bahkan lebih dari satu solusi. Kesemua itu sah-sah saja dalam matematika asalkan kembali lagi, setiap langkah yang diambil harus memiliki dasar yang kuat dan mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku. Nah, di sini matematika mengajarkan kebebasan yang tidak serta merta bebas tanpa batas. Kebebasan itu masih dibatasi norma-norma dan aturan yang berlaku. Sebagaimana dalam kehidupan, kita pun dilarang untuk berperilaku bebas sebebas-bebasnya hinga kebebasan kita memasung kebebasan orang lain.
Tanggung jawab. Ya, matematika adalah ilmu yang bisa dipertanggung jawabkan. Baik dari pernyataan yang paling sederhana sampai pernyataan rumit sekalipun. Pasalnya, dalam matematika seluruh pernyataan harus memiliki dasar sehingga kebenarannya pasti bisa dipertanggung jawabkan. Bahkan untuk membuktikan bahwa 1 lebih besar daripada 0 pun diperlukan pernyataan dasar berupa teorema atau definisi terkait, seperti trichotomy property, dan teorema lain yang berkaitan. Hebat bukan?
Bagiku matematika adalah ilmu yang paling jujur. Jika suatu pernyataan itu bernilai benar, maka dikatakanlah benar, jika salah maka dikatakanlah salah. Tidak ada ‘abu-abu’ dalam matematika. Pernah ketika UAS mata kuliah analisis real—mata kuliah yang begitu horror bagi mahasiswa matematika, dosen pengampu mata kuliah itu (yang juga merupakan dosen favoritku) mengatakan, “Meskipun jawaban akhir kalian benar, namun jika ada satu langkah saja yang salah, maka ‘kebenaran’ jawaban kalian pun sudah lenyap, artinya jawaban kalian salah.” Ya, inilah dunia matematika. Begitu tegas dan taat asas.
Lalu, bagaimana bisa melalui matematika kita dapat mengenal Tuhan? Ah, gitu aja kok repot (kata Gus Dur). Bukankah kita dapat mendekati Tuhan dari mana saja. Dari segala arah. Bahkan jika kita mendekati-Nya dengan merangkak, Dia akan mendekati kita dengan berlari. Pun, dalam matematika. Semakin kita mengenal matematika, semakin kita menyelami matematika, semakin kita bermain-bermain dengan abstraksi-abstraksi matematika, semakin kita memahami bahwa ilmu matematika pun tidak akan mampu menandingi ilmu-Nya. Kita akan mengerti bahwa ada ‘satu unsur’ yang begitu hebat, yang bahkan tidak bisa dijangkau oleh kebebasan berpikir matematika sekali pun. Bahkan Einstein pun mengakui adanya kekuasan Maha Dahsyat (entah secara sadar atau tidak, hanya Tuhan yang tahu) melalui pernyataannya, “Not everything that counts can be counted, and not everything that’s counted truly counts.”

Komentar

  1. Balasan
    1. Waaaahh Paus eh Fauz alias Uz Uz... Tengkyu yaa uda mampir...

      Hapus
  2. rasa-rasanya dari jaman SD hingga SMA aku selalu merasa resah akan satu hal "MATEMATIKA".
    aku sudah berusaha mencintainya namun gagal, makanya terkadang aku bolos di saat kelas matematika berlangsung, pernah waktu pada saat duduk d bangku SMP, aku bolos dan ketahuan guru BP, aku nekad kabur dan dia mengejarku hingga menuruni bukit, lembah, dan melewati beberapa bidang sawah, dan akhirnya aku lolos walau nafas sudah seperti keluar di semua lubang.
    begitu...
    tulisannya menarik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah... Keren kamu mas said, kayak ninja hatori aja. Btw klo aku jadi gurumu, aku biarin aja kamu kabur, daripada capek2 ngejar.

      Hapus
  3. Hmm... Menarik, tentang matematika. Aku lemah Di MTK. Suruh ngitung jumlah mantan aja susah (Saking gak ada yg perlu diitung).
    Tapi, bener, mtk menjadi momok pelajar. Biasanya gurunya juga killer. Tapi kalau yg ngajar mbak Zahra, kayanya aku bakal jago mtk. Haha

    Seorang guru spiritual pernah berkata, MTK itu ilmu yg suci. Krn ia tak bisa berbohong.
    2 + 2 selalu 4.
    Walau yg jawab rakyat kecil, presiden, tetep 4.
    Walau disuap uang triliunan, jawabannya akan Tetap 4. Hehehe

    #ngomong opo aku iki

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha.. Sini mas Candra, balik SMA lagi, tak ajarin mtk. Anyway, setuju sama pernyataanmu, matematika ilmu yg paling suci.

      Hapus
  4. Aku dulu suka matematika, cuman pas masuk bangku SMP, aku mulai gagal paham dengan matematika... Temanku bahkan nyinyir, "alah jualan cabe gak pake rumus-rumus kek gini!"... DAN ITU BENAR wkwkwk. . Anyway, good post mba...suka penjelasannya (walpoun gak mudeng wkwk)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaa kalo emang buat dagang cabe yaa g butuh rumus2 rumit, kecuali kalo punya pabrik sambal cabe itu beda cerita, pasti ada bagian2 tertentu yg perlu diubah ke model fungsi matematika, seperti kekuatan mesin produksi untuk berproduksi, dsb. Ahahaha.. #halah
      Anyway, soal ketidak mudengan saman itu, sbenarnya hanya karena masalah kebiasaan saja menurutku. We're just not used to it. Sama sepertiku, yg g mudeng soal semiotika dan hermeneutika. Ahahaha.. However, tengkyu uda mampir..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertunjukan Bayang-bayang

Pohon Pisang

Penyesalan