Tentang Hati dan Cuaca



Hati dan cuaca bukanlah kesatuan, namun saling berkaitan. Sekedar untuk menutupi yang tersirat agar tidak tersurat. Hatimu bukanlah metafora. Namun, cuaca sebaliknya. Bagimu, membahas cuaca adalah cara untuk berkamuflase. 

Dengan mudah kamu mengatakan cuacamu cerah, bersih, biru, terang, dan tanpa awan. Atau mungkin kamu mengatakan cuacamu mendung. Padahal matahari tengah tersenyum lembut. Burung-burung riang berkicauan. Kuncup-kuncup bunga bermekaran. Di kejauhan hatimu terkekeh. Menertawakan kebohongan yang kau buat sedemikian rupa. Dan kita pun terjebak dalam permainan tebak-menebak. Kebisuan menyeret kita ke dalam belenggu duga-menduga. Untuk menjaga yang tersirat agar tetap tak tersurat. 

Dengan mudah kita menciptakan cuaca-cuaca. Namun, sejatinya, kita lupa bahwa hati tak dapat berdusta. Meskipun masing-masing kita memutuskan untuk saling memunggungi kebenaran.

Kita pun telah jauh melangkah dalam rengkuhan cuaca-cuaca yang kita buat. Hingga kebenaran semakin tersudutkan. Dan pada akhirnya, letupan-letupan kebohongan itu akan meledak. Memuntahkan kejujuran seperti bintang-bintang yang bertaburan. Entah kapan waktunya. Entah kejujuran itu nantinya akan mendamaikan atau malah menyesakkan. 

Tulungagung, 25 April 2018


Komentar

  1. Anak matematika bisa nulis gini yo ternyata hehe... Nice post

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena pas nulis ini, aku sedang kerasukan.

      Hapus
  2. waah keren puisinya. daleemmm.
    nays...

    BalasHapus
  3. Sederhana namun penuh makna, keren :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertunjukan Bayang-bayang

Pohon Pisang

Penyesalan