Adek Alfi



Entah mengapa tiba-tiba aku teringat Rumah Sakit di mana satu tahun lalu nenekku dirawat. Di Rumah Sakit itu aku bertemu seorang anak kecil yang ‘istimewa’. Awalnya, kupikir dia masih berusia 2 tahun, tapi ternyata usianya sudah 4,5 tahun. Tidak seperti anak-anak diusianya, Allah belum mengizinkan gadis cilik ini untuk bisa berjalan dan berbicara. Dia hanya bisa berbicara sepatah dua patah kata yang tidak jelas.
Dari anak itu aku belajar banyak hal tentang keceriaan, ketulusan dan mungkin keacuhan. Pernah dia memegang sepotong roti, lalu digigitnya. Mulutnya belepotan krim-krim roti yang bercampur dengan air liur yang menetes. Setelah menggigit roti itu, dia menyeret pantatnya menuju sekumpulan orang dewasa yang sedang makan di depan kamar sebelah. Dia memberikan roti yang telah digigitnya itu kepada dua atau tiga orang itu, atau mungkin lebih, aku lupa jumlah tepatnyanya. Namun, sepertinya sekumpulan orang itu nampak tidak nyaman dengan kedatangan Adek Alfi. Mungkin mereka tidak nyaman lantaran melihat noda-noda belepot di bibir gadis cilik itu yang mengganggu selera makan mereka. Dengan polosnya, gadis kecil itu tertawa riang. Memamerkan gigi-gigi kecilnya yang berbaris rapi sambil mengatakan beberapa hal yang hanya dia dan Tuhan saja yang mengerti. Pun, dia tidak beranjak dari sekumpulan orang itu, meskipun raut wajah mereka seolah tidak nyaman. Gadis cilik itu tetap tertawa sambil nggremeng sendiri dan mengajak sekumpulan orang itu untuk berinteraksi.
Setelah beberapa saat berinteraksi dengan sekumpulan orang-orang yang merasa tidak nyaman dengan kehadirannya, gadis cilik itu ngesot lagi. Kali ini karena aku yang memanggilnya sih. Dia mendekatiku, dan memberikan roti yang dipegangnya itu. Aku tersenyum, dan berkata, “dimaem adek yaa!” karena kebetulan aku juga sedang berpuasa kala itu. Hutang puasa Ramadhan di tahun sebelumnya cukup banyak. Wkwkwkwk…dia menggigit lagi rotinya, lalu tersenyum, tertawa, dan ngedumel gak jelas lagi. Meskipun aku tidak mengerti, aku manggut-manggut saja sambil mengatakan hooh, ora, hooh, ora, dan pastinya sambil tersenyum dan pura-pura paham dengan gremengannya. Kadang juga aku ikut-ikutan ketawa gak jelas kayak dia. Kalo ketawa gak jelas mah udah sering kulakukan sebenarnya. Sendirian pula.  Wong edan! Ya, aku mencoba antusias dengan hal yang dia coba ceritakan kepadaku, mencoba berbaur dengan keceriaan dan keacuhan gadis cilik ini. Namun tetap saja, aku tidak dapat menangkap apa yang dia ceritakan sama sekali. Ah, bodohnya aku ini! Dari sekian banyak gremengannya itu, satu kata yang dapat aku pahamai hanyalah kata ‘mbak’. Dia memanggilku mbak. Harusnya mbak cantik yaa… #eh. Wkwkwkw…
Kala itu, aku bergantian dengan ibuku untuk menjaga nenek di rumah sakit. Karena aku yang masih cukup muda dan kuat (bila dibandingkan ibu dan nenekku loh), aku bertugas pula sebagai seksi ‘wira-wiri’ yang disuruh-suruh untuk belanja keperluan yang dibutuhkan atau mengantarkan baju-baju kotor ke rumah. Selain karena aku masih muda dan cantik, eh kuat! Sorry bohong, aku juga masih dalam masa pengambilan data untuk penelitianku, dan juga aku harus wira-wiri Solo-Ngawi karena aku masih mempunyai tanggungan 3 mata kuliah, jadi sekalian jalan gitu lah istilahnya. Setiap hari, setiap kedatanganku di rumah sakit, Adek Alfi selalu berteriak-teriak ‘mbak-mbak’ dan juga seperti biasa ngedumel gak jelas berulang kali. Sampai-sampai nenekku yang ingin tidur menjadi tidak bisa tidur dan ikut ngedumel juga khas nenek-nenek ke Adek Alfi. Hebat juga ini anak! Dia bahkan bisa menularkan kebiasaan ‘ngedumel’nya ke orang tua macam nenekku. Buahahahaha… Selain kedatanganku, gadis cilik itu juga berteriak-teriak setiap aku hendak keluar atau pulang untuk sekedar mengantar baju kotor. Sambil ngesot dan berteriak-teriak tentunya, dia mengulurkan tangannya yang kecil kepadaku. Aku meraih uluran tangan mugilnya itu. Dengan ceria, gadis cilik itu mencium tanganku sambil meninggalkan tanda cintanya, iler. Wkwkwkwkw… Meski begitu dia sungguh ‘istimewa’ bagiku. Dan kali ini aku merindukannya. Entah, kapan aku bisa bertemu lagi dengannya.
Setelah otakku mengaduk-aduk memori tentang Adek Alfi, di dalam kamar yang panas ini, aku berandai-andai. Seandainya aku bisa kembali menjadi anak-anak. Di mana dulunya aku sering berfantasi, membayangkan sebuah ‘dingklik’ menjadi seekor kelinci yang aku gendong ke mana saja dan aku ajak berbicara, karena aku ingin punya kelinci kala itu, atau berlarian sambil berkata ‘heak…heak...’ seolah aku menunggangi kuda, atau berkelahi dengan adekku karena rebutan ayam, yang sebenarnya ayam itu adalah ayam yang ibu pelihara. Ah, bodohnya! Buat apa diperebutkan coba!
Aku juga ingin kembali menjadi anak-anak yang dulunya pernah berpura-pura menjadi tukang jamu, yang dengan polosnya mengikuti bentuk jari kaki si tukang jamu yang tidak normal, dan membuat ibu terkekeh geli sampai-sampai tidak bisa melanjutkan makan siang karena perutnya kaku. Aku ingin kembali menjadi anak-anak di mana aku sering dijemput ibu pulang sambil membawa sapu ‘gebug’ dan aku selalu sembunyi entah di mana. Kemudian diam-diam mengikuti ibu dari belakang dan menjulurkan lidah kepadanya. Ah, aku ini nakal sekali! Aku ingin kembali menjadi anak-anak yang jahil. Yang suka berburu capung untuk menakut-nakuti adekku, sampai dia lari dan menangis. Aneh juga kalau dipikir, apanya yang menakutkan dari seekor capung coba! Tapi, memang hukum karma itu selalu berlaku yaa. Sayang, populasi capung sudah mulai berkurang sekarang ini. Susah sekali mencari capung, tidak seperti cicak yang mudah sekali didapat di sudut-sudut rumah. Itu pun cicak dengan badan yang ginuk-ginuk. Dan, sialnya lagi, adekku tidak takut cicak. Belakangan ini giliran aku yang sering menangis karena cicak yang ginuk-ginuk, entah itu dari foto cicak ginuk-ginuk yang sering dikirimkannya melalui whatsapp, atau dari cicak yang mati di atas kasur di samping bantalku semalam. Ah, kenapa aku begitu cengeng hanya karena cicak!
Yang jelas kali ini aku ingin seperti Adek Alfi yang begitu acuh dan ceria. Yang tidak takut dengan cicak atau hal-hal apapun. Yang selalu tertawa lepas di setiap situasi, apapun yang terjadi.

Ngawi, 9 Mei 2018

Komentar

  1. Hmm kasian mbak 😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ella, kakaknya lebih parah lagi kondisinya, kalo alfi ini masih aktif. Jatuh, kepalanya kepentok lantai pun dia g nangis, ketawa2 malah, g kyak anak2 lain. Mereka hanya korban pernikahan sedarah orang tuanya, el. Kasihan. Sbnarnya yg paling bertanggungjawab itu malah kakeknya. Orang tua mereka g tau apa2 soal hub sedarah mereka. Yaa, ambil pelajarannya aja buat kita. Hehehe...

      Hapus
  2. Mbak, saran aja sih... Mungkin lebih baik di rata kanan kiri dulu di word, sebelum di pindah di blog... Biar enak bacanya hehe... Semoga alfi dan ribuan orang seperti alfi itu dimudahkan jalannya nanti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya ini masalah selera aja sih, aku lebih suka rata kiri. Hehehe.. Tapi untuk memudahkan pembaca, oke deh, saran ditampung untuk diimplementasikan di tulisan berikutnya. Amiin atas doa2 untuk adek alfi dan anak2 istimewa seperti dia lainnya.

      Hapus
  3. .....Aneh juga kalau dipikir, apanya yang menakutkan dari seekor capung coba!....
    jadi inget Spongebob sama si ulat yang jadi kupu kupu
    .
    kemarin malam, saat tadarusan, salah satu anak tetangga (Khanza) main di langgar sambil lari- lari, teriak, ketawa, dan kesana kesini. kemudian, adekku (sudah kuliaah smstr2) tiba-tiba bilang, "enaknya jadi Khanza, nggak punya beban hidup". dia nggak ada niatan ngomong ke aku, cuma asal ngomong sambil liatin Khanza, dan nggak ada puting beliung, stunami atau gempa bumi, aku malah nangissssss.... rindu.....

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertunjukan Bayang-bayang

Pohon Pisang

Penyesalan