Sepatu
Tulus. Ikhlas. Menurut kalian bagaimana cara mengukur ketulusan atau
keikhlasan hati? Terkadang aku berpikir, ketika aku melakukan sesuatu, apakah
aku sudah benar-benar tulus. Atau ketika aku merelakan sesuatu apakah aku juga
sudah benar-benar tulus.
Ttiga minggu sebelum Ramadhan, aku menghabiskan beberapa waktu
di kediaman nenek dan kakekku di Ngawi. Beliau berdua tinggal di daerah yang menurutku
bisa dibilang pedalaman dan cukup susah diakses. Di sana aku bertemu dengan
seorang bisu yang bernama Mbak Saliyem. Rumah beliau kecil dan sederhana, cukup
dekat dengan pasar, aku yang setiap pagi bertugas belanja ke pasar, seringkali
disapanya dengan suara parau dan terbata-bata, dan terkadang aku sulit memahaminya,
yang aku tahu hanya beliau menyapaku, itu saja. Bahkan pernah ketika aku dikejar
anjing nakal kepunyaan tetangga beliau, Mbak Saliyem menolongku dengan melempar
anjing itu dengan batu untuk mengusirnya. Aku sungguh berterimakasih kepada
beliau.
Aku adalah perempuan normal yang menyukai barang diskon dan murah. Aku
pernah membeli sepatu diskonan dengan harga yang cukup miring. Tapi ya memang benar
kalau dipikir-pikir ‘ana rega, ana rupa’, masih beberapa kali kupakai,
namun sepertinya sepatu itu sudah mulai ringkih. Aku pun bertanya kepada kakekku
tentang tukang sol sepatu terdekat, dan kakekku mengatakan bahwa Mbak Saliyem
juga bisa menjahit sepatu, tapi beliau tidak tahu perlihal bagus tidaknya hasil
jahitan beliau.
Sebenarnya dalam hal sol sepatu, aku cukup pilih-pilih, karena jika
hasilnya tidak rapi dan tidak sesuai keinginanku, sepatu itu akan tergeletak
begitu saja di rak (warning! ini bukan kebiasaan yang baik. Jangan
ditiru! karena aku berusaha menghilangkannya). Tapi, melihat keadaan
perekonomian Mbak Saliyem, tanpa berpikir lebih jauh aku memutuskan membawa
sepatuku kepada beliau, sambil berniat dalam hati, “aku akan menjadi perantara
rezeki Mbak Saliyem dari Gusti Allah, bukan sekedar untuk menjahitkan sepatuku”.
Dengan niat itu, kurasa aku sudah cukup tulus membantu Mbak Saliyem.
Mbak Saliyem yang nampak senang dan antusias dengan kedatanganku,
mengatakan dengan isyarat bahwa sepatuku akan selesai sore hari kemudian pada pukul
16.00. Sesuai yang beliau janjikan, aku datang kembali ke rumah beliau pukul
16.00 mungkin lebih beberapa menit. Beliau sudah menyiapkan sepatuku di dalam
tas plastik, dan menyerahkan kepadaku dengan raut wajah yang sumringah. Sebelum
aku pulang pun beliau sempat menawariku untuk mampir sebentar di rumah beliau.
Setibanya di rumah, aku membuka bungkusan plastik itu, dan mendapati
sepatuku telah dijahit dengan jahitan yang jujur aku tidak puas dengan
hasilnya. Aku sedikit kecewa kala itu. Aku juga sempat berpikir untuk tidak
memakai sepatu itu lagi. Meskipun demikian, jauh di sudut-sudut hatiku, ada seberkas
perasaan menertawakan kekerdilan pikiranku itu. Bukannya, dari awal aku sudah
berniat untuk menjadi perantara rezeki Allah untuk Mbak Saliyem, bukan untuk
menjahitkan sepatu yang ringkih itu. Lalu kenapa sekarang aku jadi merasa tidak
puas begini?
Keesokan harinya, aku bertanya kepada Mbak Sri, seseorang yang biasanya ‘rewang’
di rumah nenek dan kakeku, perihal hasil jahitan Mbak Saliyem dan menunjukkan
sepatuku kepada beliau. Mbak Sri mengatakan bahwa jahitan itu adalah jahitan
yang sangat rapi. Biasanya malah lebih tidak rapi lagi. Seketika aku tertampar.
Mungkin, raut wajah sumringah Mbak Saliyem ketika menyerahkan bungkusan
sepatuku sore itu, adalah karena beliau sudah dengan tulus menjahit sepatuku. Beliau
merasa puas dan senang karena sudah melakukan yang terbaik, sesuai porsi kemampuan beliau. Mbak Saliyem sudah
dengan tulus dan semaksimal mungkin menjahitkan sepatuku, bagaimana bisa, aku
yang bodoh ini malah berniat untuk tidak memakainya. Astaghfirullah.
Kembali sekelumit perasaan entah darimana datangnya, menertawakan
kebodohanku. “Bagaimana bisa, Allah tidak menguji ketulusuan yang sudah kamu
anggap tulus itu! Mungkin, di awal kamu merasa bahwa kamu sudah benar-benar tulus,
tapi seiring berjalannya waktu, dapat dipastikan Allah akan tetap menguji seberapa
murni kadar ketulusanmu!” Kala itu, aku gagal pada ujian ketulusan yang
Allah berikan kepadaku melalui Mbak Saliyem. Aku adalah manusia bodoh yang seringkali
gagal dalam ujian-ujian yang diberikan Allah. Entah, apa tujuan Allah mengujiku
kala itu, mungkin saja melalui Mbak Saliyem Allah tengah mempersiapkanku untuk
menghadapi ujian ketulusan yang lebih besar lagi, setelahnya. Ya, mungkin saja.
Semoga mbah saliyem baca tulisan ini hehe.. Bagus mbak :)
BalasHapusMakasih mas luqman. Tapi beliau sepertinya g ada gadget deh. Hahaha.. Btw, beliau baru punya anak satu kok, belum jadi mbah2. Hehehe..
Hapussekalipun begitu, Allaah masih bisa kasih kesempatan mbak sadar,
BalasHapusnah, aku, udah nggak sadar, ngedumel, war, Allaaah.....
aku jadi inget satu quote, "jangan bersedih doamu tak dikabulkan, selama kamu masih dikasih hidayah untuk terus berdoa"
ps: maaf sebelumnya mbak, pas aku baca bagian mbak dikejar anjing, aku ketawa, aku ngebayanginnya lucu banget. hahaha.... jarang-jarang soalnya...
Iyaa elok, benar sekali.. Mungkin emang dg belum terkabulnya doa, Allah masih pengen bermesra2an dengan kitaa.. Kadang memang kitanya aja yg kurang peka. Aku pun masih kyak gitu. Thanks anyway uda mampir. Hahaha.. Iyaa nih, anjingnya nakal emang, wktu itu uda g mikir malu dsb, lari sekencang2nya sambil teriak, yg penting aku selamat.. Hahaha..
Hapusbtw, tulisannya mbak rapi. :)
BalasHapus