Teh Tubruk
Beberapa
hari yang lalu, karena suatu hal aku diharuskan untuk berangkat ke Ngawi,
padahal sehari sebelumnya aku baru saja datang dari Ngawi. Kemudian, selain hal
itu ada banyak hal lain terjadi terkait dengan keluarga besarku, dan membuatku seolah
terlempar ke dalam lubang sempit yang menyesakkan. Ada dua pilihan kala itu,
pergi atau tetap tinggal di Tulungagung. Dengan pertimbangan-pertimbangan
nurani, akhirnya aku memutuskan untuk pergi.
Perjalanan
Tulungagung-Ngawi memakan waktu kurang lebih 5 jam. Tidak cukup lama
sebenarnya, hanya saja terkadang kondisi bis AKAP yang sesak dan kondisi desa
di mana kakek-nenekku tinggal yang begitu panas dan kering membuatku sedikit
malas untuk melakukan perjalanan ini. Hehehe. Astaghfirullah! Aku sampai di
rumah beliau berdua sekitar pukul 3 sore. Setelah aku membersihkan diri dan
membereskan barang-barangku aku menghambur ke dapur. Menyeduh satu gelas besar teh
tubruk panas. Gila ini perut apa karung!
Sebenarnya,
aku bukanlah pencinta teh atau kopi. Aku hanya menikmati teh atau kopi di saat
aku ingin saja. Aku lebih suka minum air putih, karena memang tubuh kita
membutuhkan asupan air yang cukup tinggi guna melancarkan metabolisme, dan juga
sekalian diet sih. Wkwkwkw.. Aku pun tidak begitu banyak tahu jenis-jenis teh, namun,
entah bagiku teh dari Jawa Tengah memiliki cita rasa yang lebih nikmat, bila
dibandingkan dengan kebanyakan teh di Jawa Timur (mungkin ini hanya spekulasiku
saja tanpa didasari dengan dasar yang kuat, seperti research misalnya, tapi entahlah aku merasa begitu). Salah
satu teh tubruk favoritku adalah teh tubruk yang biasanya disajikan di rumah kakek-nenekku
setiap pagi dan sore, yang tidak bisa kujumpai merk teh itu di toko atau
swalayan di Tulungagung.
Tidak
biasanya, entah mengapa atau sekedar iseng, aku begitu menikmati proses
penyeduhan teh di sore itu. Aku mengamati proses demi prosesnya. Mulai dari
penuangan air panas sampai teh tersebut siap untuk kunikmati. Dan entah mengapa
pula, tiba-tiba otakku berjalan tidak sebagaimana biasanya. Karena biasanya sering
gak jalan sih! Sore itu, aku mengait-ngaitkan proses penyeduhan ‘teh tubruk’
dengan kehidupan. Masya Allah, kesambet apa aku ini!
Sudah kita
tahu, dalam menyeduh teh tubruk, diperlukan air yang benar-benar panas. Melalui
air panas itu warna dan sari-sari teh akan keluar dan larut dengan air. Pun,
juga dengan aroma khas teh itu sendiri. Dengan air panas, aroma melati dan daun
teh tubruk itu akan keluar menggelitik lubang hidung. Aku suka menghirup aroma teh
yang keluar bersama uap-uap ketika teh itu masih panas.
Dari sini,
mungkin dapat dianalogikan bahwa untuk menempa seorang hamba, menghebatkan
seorang hamba, dan mengukur kadar kualitas seorang hamba, seringkali Tuhan
menuangkan ‘air panas’. Melalui air panas itu akan terlihat seberapa baik
kualitas seorang hamba. Seperti halnya dengan teh tubruk. Menurutku semakin
nikmat cita rasa teh tubruk, maka semakin lama teh itu harus diseduh di dalam
air panas. Dan semakin lama pula warna merah dan sari-sari teh itu sendiri akan
keluar dan larut bersama air. Ketika sudah larut dan siap dinikmati, Subhanallah…
uweenaak tenaaan caah.. Entah, teoriku ini benar atau salah, namun setidaknya,
ini berdasarkan pengamatan yang sebelumnya pernah aku lakukan. Hehehe…
Selain itu teh
akan nikmat bila dinikmati ketika hangat, bukan? Padahal untuk menghadirkan
cita rasa teh tubruk yang nikmat, ‘ia’ harus diseduh dulu dengan air panas. Nah,
dari sini, jika dilihat dari perpektif penikmat teh tubruk, diperlukan
kesabaran dalam menikmati cita rasa teh tubruk mulai pertama diseduh dengan air
panas, sampai teh itu sendiri menjadi teh tubruk yang benar-benar nikmat di
saat hangat. Kita tidak bisa serta-merta menikmati teh tubruk ketika teh itu
baru saja diseduh. Bisa-bisa mloyoh itu bibir!
Ngomong-ngomong,
dari pada teh celup, aku lebih menyukai teh tubruk. Karena menurutku memang
cita rasa teh tubruk itu lebih nikmat. Dan bagiku ada sensasi tersendiri ketika
meminum teh tubruk. Sensasi ketika kita harus meniupi teh tubruk agar gagang
dan daunnya menyingkir sehingga tidak ikut terminum atau terkadang malah ada
beberapa gagang atau daun teh yang nyangkut di mulut dan kita harus melepehnya
atau kadang malah menggigit-gigitnya sampai keluar rasa asam-asam gimana
gitu khas daun teh. Ya, bila dibandingkan dengan teh celup, cita rasa teh
tubruk itu lebih nikmat, namun menikmati teh tubruk itu bisa dibilang lebih rempong
daripada menikmati teh celup. Karena menikmati teh tubruk sejatinya bukan hanya
menikmati soal cita rasa tapi juga menikmati keribetannya.
By the way, kamu di team apa? Teh
tubruk apa teh celup?
gk kedua2 nya wkwkk
BalasHapusOh ya, lupa. Kamu tim jamu gendong sih yaa... Hahaha
HapusEnak teh poci, mbak. Hehe
BalasHapus