Solo
Ruang Pertemuan di Pura Mangkunegaran
Beberapa hari yang lalu, waktu menyeretku untuk memunguti
kenangan-kenangan selama dua tahun terakir. Ya, karena suatu hal aku harus
kembali ke Solo. Kota yang tidak terlalu bising namun mampu mencetak sejuta
rindu bagiku. Benar saja, aku sudah merindukan Solo meskipun masih berselang 2
bulan semenjak kedatangaku terakhir kali ke kota itu. Dan aku sangat bersyukur
atas perjalananku kali ini.
Ada banyak hal yang ku rindukan dari Solo. Aku rindu pagelaran wayang,
tari, dan teater di Kampus ISI yang dulunya tidak pernah ku lewatkan. Aku rindu
shalat tarawih di Masjid ISI yang bangunannya berbentuk pendopo itu. Aku rindu
berjalan kaki ke kampus sambil menyapa tukang sol sepatu atau pedagang-pedagang
yang menggelar lapak di trotoar sepanjang jalan belakang antara ISI – UNS. Aku rindu
untuk bercerita banyak hal dunia pendidikan dan kepenulisan ilmiah serta
wejangan-wejangan dari promotorku, yang sudah ku idolakan bahkan sebelum aku
menjadi mahasiswa beliau. Aku begitu kagum dengan beliau, lantaran diusianya yang
bisa dibilang senja, beliau masih saja produktif menulis buku atau artikel. Aku
rindu berbincang-bincang dengan kakung yang periang itu, Sevanya, gadis
kecil yang periang dan jago nyanyi, yang secara tidak sengaja sering kali kutinggal
tidur ketika dia menggosipkan teman sekolahnya di kamarku. Aku juga rindu keluarga
Bapak Kos, Abang penjual Geprek, Bapak gaul penjual bubur ayam, Bu Subur
penjual angkringan yang ramah, Ibu penjual jus yang entah aku belum tahu
namanya sampai sekarang, juga mbah ‘legend’ pejual gorengan yang sudah
berjualan bahkan sebelum Bapak kuliah di
Solo, juga aku ingin berbincang-bincang tentang seni dengan teman-teman ISI
yang urakan, nyleneh tapi jujur dan apa adanya. Aku rindu menghabiskan
waktu bercengkrama dengan pagi dan malam di tempat yang kuberi nama rooftop,
yang mana aku mampu menantang langit dan sinar matahari maupun menciptakan rasi-rasi
bintang yang ‘aneh’dari sana. Dan pastinya aku juga rindu musim gugur lokal
dari bunga-bunga angsana yang berjatuhan di sepanjang jalan baik di Kampus UNS
ataupun Kampus ISI.
Selain itu semua, aku juga ingin kembali menapaki Pura Mangkunegaran
yang identik dengan perkawinan arsitektur budaya Jawa – Eropa lalu bertemu
dengan Mas Guide yang menderita low vision namun penuh semangat,
yang begitu sopan dan halus perangainya itu, juga aku ingin menikmati hiruk pikuk manusia dalam
festival lampion di Pasar Gede setiap kali Imlek tiba, atau berjalan-jalan di
Kasunanan Keraton Solo sampai Masjid Besar yang masih mempertahankan etnik
budaya Jawa itu, dan sesekali cuci mata di Pasar Klewer. Ah, begitu banyak hal
yang ingin kulakukan lagi di Solo.
***
Dulu, di masa-masa sekolah, aku selalu ingin dapat berwisata ke
tempat-tempat baru. Ke tempat di mana aku akan menemui orang-orang baru, adat
budaya baru, pengetahuan baru, juga olah rasa yang baru. Salah satu keinginanku
adalah dapat menjejakkan kaki di Indonesia bagian Timur. Aku ingin mengenal
kemurnian alam di sana, juga manusia-manusia baru yang pastinya berbeda adat
dan budayanya. Aku ingin sesekali mengabdi di pulau-pulau kecil yang seperti
manik-manik itu, yang tersebar di garis batas negeri ini. Atau aku juga ingin
dapat menaklukkan puncak Gunung. Tidak perlu semua Gunung di Indonesia, cukup
satu atau dua gunung saja. Setidaknya aku dapat melihat samudra di atas awan
dari ketinggian yang nampak di setiap pagi hari itu dan merasakan sensasi nikmat
lelahnya perjuangan menuju ‘puncak’ seperti yang diceritakan teman-temanku. Ah,
sayang, keinginan itu hanyalah menjadi sebuah keinginan.
Aku bukanlah perempuan yang bisa dibilang pemberani. Aku terlalu takut
untuk membuat kedua orang tuaku khawatir akan semua tindak-tandukku. Aku tidak
ingin menambah beban pikiran mereka. Aku tidak ingin Tuhan marah kepadaku,
melalui marahnya Bapak-Ibuku. Aku akui, aku bukanlah seorang anak yang baik.
Aku masih sangat bergantung kepada Bapak-Ibuku. Bahkan sampai saat ini pun, aku
tidak bisa memutuskan banyak hal dalam hidupku tanpa berdiskusi dengan kedua
orang tuaku. Semata-mata aku tidak ingin Tuhan tidak ridho kepadaku lantaran ketidak
ridhoan kedua orang tuaku. Yang pasti, ada banyak hal yang ingin kulakukan—yang
sayangnya aku tidak cukup berani untuk melakukannya.
***
Kira-kira dua hari sebelum perjalananku ke Solo, aku membaca tulisan
seorang teman tentang ‘perjalanan’. Tulisan itu membangkitkan kembali keinginanku
yang sudah lama terkubur itu. Aku ingin berwisata—menguji eksistensi diriku dan
menemukan hal-hal baru. Kemana pun itu, meskipun berwisata ke masa lalu pun tak
apa, pikirku. Setidaknya, dari wisata itu aku bisa memunguti kenangan-kenangan
yang mungkin saja ada ilmu yang dulunya pernah luput, yang akan dapat kumaknai
jika aku kembali membuka halaman yang sama. Ya, seperti paragraf dalam suatu
bacaan atau selembar halaman sebuah buku kira-kira, yang mana kita harus
membaca kembali untuk dapat benar-benar menyerap maknanya. Sejurus, aku
tersadar. Aku tersadar bahwa aku merindukan Solo.
Selalu. Sekenario Tuhan terlampau baik. Ya, Tuhan begitu baik kepadaku,
karena suatu hal, aku harus kembali ke Solo. Setidaknya untuk dua atau tiga
hari hari. Ah, akhirnya, aku bisa berwisata untuk memunguti kenangan masa lalu.
Aku benar-benar takjub ketika mendapati Gerbang UNS. Pikiranku mengubek-ubek
masa-masa di mana aku berlarian agar tidak ketinggalan bus karena aku harus PP
Ngawi – Solo, atau sekedar berjalan santai menikmati hijaunya kampus yang bisa
dibilang masih bau kencur itu. Melihat pohon-pohon angsana ingin rasanya
kembali lagi ke kota ini di bulan Oktober nanti.
Setelah aku mengurus beberapa berkas di Fakultas serta menemui
promotorku untuk sekedar silaturahmi, ku putuskan untuk menginap di kos lamaku
dan pulang dengan berjalan kaki. Meski di bawah terik, aku menikmati semua itu.
Pandanganku mengedar di sepanjang trotoar yang setiap malam berubah menjadi
Pujasera yang penuh dengan jajanan beraneka macam. Aku juga mengamati Gerbang
ISI yang biasa disebut dengan Kapalan ISI karena bentuknya yang menyerupai
Kapal itu. Di sana aku menyapa beberapa bule perempuan yang sudah fasih
berbahasa Jawa, pasti mereka lebih hebat menyinden daripada aku—yang memang
tidak bisa nyinden ini. Hahaha…
Meski aku tidak benar-benar mengobati seluruh kerinduan akan
kenangan-kenangan di Solo, tapi memang dalam setiap perjalanan akan kita dapati
hal-hal baru yang dapat mendewasakan kita. Dan dalam perjalanan ini ada satu
pelajaran yang kudapati.
Suatu ketika, aku membeli air mineral di toko kelontong yang dulunya
menjadi langgananku. Penjualnya adalah seorang bapak-bapak yang kira-kira
berusia antara 40 sampai 50 tahun. Beliau cukup ramah, dan dulunya sering
bercengkrama denganku. Beliau juga pernah menanyakan nama dan kota asalku, dan
mengira aku adalah mahasiswa ISI.
Rasa-rasanya memang benar, tidak ada kesejatian dalam hidup ini.
Layaknya, kartu prabayar, semua hal memiliki masa aktifnya masing-masing.
Begitupun denganku, kamu, atau mereka. Waktu bisa jadi begitu hebat, karena
mampu mengubah segala hal. Dari saling asing menjadi saling mengenal dan dari
saling mengenal menjadi saling melupakan. Bapak itu, yang dulunya kami sering
berbincang-bincang, kemarin tidak mengenaliku. Aku terlupakan. Beliau
menanyakan kembali hal-hal yang pertama kali beliau tanyakan kepadaku dulu: nama,
kota asalku, dan mengira aku adalah mahasiswa ISI, serta beliau juga menawarkan
untuk mengenalkanku dengan seorang mahasiswa pedalangan ISI yang juga berasal
dari Tulungagung. Padahal dulu beliau sudah pernah menawariku hal yang sama dan
dengan orang yang sama. Kala itu aku mengatakan bahwa aku sudah mengenalnya,
karena memang letak kos kami yang berdekatan. Namun, bedanya kemarin aku
mengatakan kepada beliau bahwa aku sudah lulus. Jadi, rasa-rasanya percuma jika
beliau mengenalkanku dengan lelaki itu.
Dalam perjalanan memunguti kenangan ini, kudapati beberapa hal. Memang
semua yang ada di dunia ini hanyalah kefanaan, yang memiliki masanya
masing-masing. Semua hal dapat dengan mudah berubah begitu saja. Waktu layaknya
tongkat sihir yang mengubah banyak hal sesuka hati pemegangnya. Selain semua
itu, dalam perjalanan ini aku pun merasakan rindu. Rasa-rasanya memang benar,
untuk menciptakan rindu, kita harus menciptakan jarak antara dua tempat atau
dua waktu.
***
mendadak pengen ke solo :((
BalasHapusAyoookk kakak.. Pas musim gugur lokal di UNS dapat dipastikan akan menjadi kenangan yg sendu di Solo.. Hahaha..
Hapus