Dear Pejalan


Mari istirahat sejenak. Kita duduk sambil menyesap kopi panas dan membicarakan perjalanan kita sejauh ini. Mari kita kembali memunguti kisah-kisah dan mengevaluasi diri. Apakah kamu bosan berjalan bersamaku? Apakah kamu jengah mendengar ocehan cerewetku? Pun, tidakkah kamu lelah dengan perdebatan-perdebatan yang sering kali kita lakukan di ruang TV? Perdebatan untuk sekedar memperebutkan channel pertandingan olah raga; kamu suka sepak bola sedangkan aku pecinta badminton. Kamu suka berita politik dan sosial, aku suka film kartun. Lucu memang, sering kali kita berdebat karena hal-hal remeh seperti itu, dan kamu dengan pasrah selalu mengalah. Juga ketika aku mengatakan bahwa aku cemburu dengan rokokmu setiap kali kamu mulai menyalakan pemantik. Seketika, kamu membuang rokokmu, berjalan ke arahku dan memelukku. Itu adalah caraku agar kamu tidak merokok lagi. Aku tahu betapa beratnya bagimu melakukan hal itu. Karena rokok dan kopi adalah inspirasimu. Sekarang, kamu bukan lagi seorang perokok. Sayang, maafkan aku, yang dengan sebegitu tega memisahkanmu dari salah satu sumber inspirasimu. Maafkan sifatku yang sering kali kekanak-kanakan ini.
Lalu, ketika kamu balik bertanya kepadaku; apakah aku lelah mendampingimu yang sering mengendap keluar kamar dan menyalakan TV dini hari? atau apakah aku menyerah mengomelimu karena handuk yang selalu kamu letakkan di atas tempat tidur begitu saja? Dengan mantap aku akan menjawab tidak. Aku sungguh bahagia bersamamu. Aku bersyukur bahwa aku bisa membersamaimu sejauh perjalanan ini dan perjalanan-perjalanan kita selanjutnya. Aku begitu bahagia berjalan beriringan denganmu juga menggengam tanganmu. Selalu! Kebahagiaan terbesarku adalah ketika Tuhan mengizinkanku untuk menyaksikan dan mencabut uban pertamamu, sampai nanti aku tak lagi bisa mencabut uban-ubanmu, kenapa? Karena saat itu rambut kita tak lagi hitam melainkan sudah penuh dengan uban.
Meskipun perjalanan kita penuh batu dan terjal, tak ada sedikit pun sesal dalam diriku. Bahkan, andai Tuhan menawarkan untuk mempertemukanku dengan orang lain dalam guguran angsana sore itu, aku akan tetap memilih bertemu denganmu. Aku akan memilih untuk tetap menghabiskan banyak waktu di perpustakaan dan menyesap kopi di kursi dekat jendela sambil menyaksikan hujan dan berdiskusi denganmu, juga bercerita banyak hal; tentang kisah-kisah manusia yang kamu jumpai, buku-buku, lagu dan puisi, yang mana aku tak sebegitu tahu tentang semua itu. Juga aku akan bercerita tentang betapa sulitnya membuktikan Teorema Tylor dan teorema-teorema sejenis yang sering kali merontokkan rambutku dan menyita malam-malamku. Aku juga akan memilih untuk menghabiskan malam di teras rumah menyaksikan bintang yang tumpah bersamamu, lalu memperdebatkan lagu instrumen untuk diputar; Canon in D atau Fur Elise, Winter Sonata atau Auntumn in My Heart, sejurus kemudian aku terlelap di pundakmu. 
Sayang, tetaplah berjalan di sampingku dan menggenggam tanganku. Pegang erat-erat peta kita. Kemana pun kamu pergi, aku akan mengikuti. Betapa bahagianya aku, bahwa Tuhan menghadirkanmu untuk menggenapkanku. Mari duduk sejenak. Kita bicarakan perjalanan kita juga membisikkan doa-doa. Sampai senja. Sampai kita menua bersama. Sampai nanti kita terpisah, dan kembali bersama di hadapan Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertunjukan Bayang-bayang

Pohon Pisang

Penyesalan