Postingan

Dear Pejalan

Mari istirahat sejenak. Kita duduk sambil menyesap kopi panas dan membicarakan perjalanan kita sejauh ini. Mari kita kembali memunguti kisah-kisah dan mengevaluasi diri. Apakah kamu bosan berjalan bersamaku? Apakah kamu jengah mendengar ocehan cerewetku? Pun, tidakkah kamu lelah dengan perdebatan-perdebatan yang sering kali kita lakukan di ruang TV? Perdebatan untuk sekedar memperebutkan channel pertandingan olah raga; kamu suka sepak bola sedangkan aku pecinta badminton. Kamu suka berita politik dan sosial, aku suka film kartun. Lucu memang, sering kali kita berdebat karena hal-hal remeh seperti itu, dan kamu dengan pasrah selalu mengalah. Juga ketika aku mengatakan bahwa aku cemburu dengan rokokmu setiap kali kamu mulai menyalakan pemantik. Seketika, kamu membuang rokokmu, berjalan ke arahku dan memelukku. Itu adalah caraku agar kamu tidak merokok lagi. Aku tahu betapa beratnya bagimu melakukan hal itu. Karena rokok dan kopi adalah inspirasimu. Sekarang, kamu bukan lagi seorang p...

Merindu Kerinduan

Gambar
Lebih dari apa yang kau ketahui tentang malam Ada bintang timur yang merekam kesepian Ada rembulan pucat yang tersenyum, namun rindunya terangkum. Andai kau ingin tahu, duhai semut kecil yang bingung Dua manusia tersesat di sudut kota Mereka purba, mereka buta, Masa lalu masih menggantung di punggung Menjelma jadi sua di sela-sela jarak yang menjadi sajak Mereka berjalan beriringan, Namun lengan tak pernah memiliki setiap sisi pertemuan. Duhai semut kecil yang bingung Dua manusia sendu di ujung sana, Memungut duka, menyimpan nestapa Menutup, dan mengunci pintunya rapat-rapat Lalu membuang kuncinya, entah ke mana! Dan, ketika mereka ingin lupa Tak tahu harus memulai dari mana.    

Pohon Pisang

Angin berhembus pelan menggoyangkan tangkai-tangkai ilalang. Lia menerawang jauh mengamati langit biru. Merasakan hembusan angin menelisik rambutnya. Dihadapannya puluhan petani sibuk dengan usahanya. Memanen padi yang menguning. Menggiling padi hingga menjadi butir-butir beras putih. Sesaat pandangannya mengarah pada seorang kakek yang tengah menebang pohon pisang. Pohon itu berukuran cukup besar bila dibandingkan dengan perawakan kakek itu yang terbilang kurus. Urat dan otot bermuculan dipermukaan kulitnya yang berkeringat diterpa sinar matahari. Lia berjalan mendekati kakek tua itu. “Loh Kek, kok pohonnya ditebang. Kan sayang, besar-besar begini ditebang.” Protes Lia pada Kakek itu. Si Kakek tersenyum, memamerkan rentetan gigi yang tak lagi sempurna. Beberapa gigi seri dan gerahamnya tanggal dimakan usia. “ Nduk , kalau pisang ini tidak ku   tebang, tetap akan percuma saja, dia tetap akan mati. Mengering. Dia tak bisa berbuah lagi, tapi   setidaknya pisang ini sud...

Empat Anasir

Gambar
Lia berdiri di suatu tempat. Ada ratusan bahkan ribuan anak tangga yang menuju entah ke mana. Pandangannya mengedar. Tubuhnya dikelilingi 4 anasir: tanah, api, angin, dan air. Gadis itu mengira dia telah bebas. Bebas dari warna-warna laksana mata pisau yang senantiasa membidik dan siap menghujam tubuhnya kapan saja. Tapi, jangankan bebas, ribuan pertanyaan semakin sesak menjejali otak.  Gadis itu menatap nanar dan penuh tanda tanya.Tatapannya masih sama seperti beberapa waktu sebelumnya. Waktu di saat tubuh ringkihnya diterpa tirai jendela yang menjilat-jilat seolah siap menelannya. Tunggu! Benarkah kejadian itu masih berselang beberapa waktu dari sekarang? Ku rasa tidak. Tapi mungkin saja juga iya. Ah, siapa yang mampu menafsir relativitas waktu. Dalam hati, Lia bertanya-tanya, ‘ apakah aku sudah mati? ’ lalu muncul pertanyaan lagi ‘ ke mana hidup pergi setelah mati? ’, lalu ‘ kenapa ada api, angin, tanah, dan air—apa maksud dari semua ini? ’. Pandangannya tertuju pada ki...

Pertunjukan Bayang-bayang

Dahulu, ketika aku masih di Solo, aku suka sekali menonton pertunjukan apapun yang diadakan di Kampus ISI. Hal ini kulakukan karena di tengah-tengah keseharian yang dipenuhi pemikiran-pemikiran idealis dan rasionalis rasa-rasanya seni pertunjukan dapat menjadi salah satu pilihan guna menyelaraskan antara pemikiran rasional dan olah rasa kebatinan. Selain itu aku memang menyukai pertunjukan-pertunjukan budaya sih, dan juga kosku cukup dekat dengan Kampus ISI, sehingga bagi mahasiswa yang suka berolah-raga sepertiku: jalan kaki terutama (karena sebenarnya aku gak ada motor untuk pergi jauh-jauh), sekedar mencari hiburan malam (jangan negative thinking ya!) di Solo tidaklah sulit. Kala itu adalah peringatan Hari Wayang sedunia. Seperti biasa Kampus ISI sangat ramai pengunjung. Ada beberapa titik pertunjukan kala itu, di Pendopo Besar, Teater Besar, Teater Kecil, dan di depan Rektorat ISI. Di Pendopo Besar ada pagelaran wayang dengan dhalang-dhalang kondang, diantaranya (Alm) Ki En...

Penyesalan

Begitu banyak hal yang tidak bisa ku katakan dalam hidup. Kata maaf ketika aku berantem dengan adekku. Rasa bersalahku ketika aku membuat adekku menangis dan mengurung diri di kamar. Rasa peduliku ketika aku menyadari bahwa sedari pagi tadi dia belum makan apapun. Aku tidak bisa memungkiri perasaan itu, tapi aku juga tidak bisa menunjukkannya. Aku adalah anak pertama dari lima bersaudara. Jadi, sejak kecil aku sudah terbiasa hidup keras walaupun masih banyak orang-orang di luar sana yang hidupnya jauh lebih keras daripada aku. Bapak dan Ibuku dahulunya menghidupi keluarga dengan berjualan kerupuk, jajanan, jamu, sampai pakaian. Aku dulu juga sering ikut begadang untuk sekedar merecoki bapak dan ibuku membungkus kerupuk. Sampai-sampai sekarang bapak sering menggodaku kalau aku ini gak tinggi-tinggi seperti adek-adekku karena dulunya sering makan bungkus kerupuk! Jahat banget ini mah . Setelah kupikir-pikir mungkin hal inilah yang membuatku menjadi seorang kakak yang keras, gala...