Dear Pejalan
Mari istirahat sejenak. Kita duduk sambil menyesap kopi panas dan membicarakan perjalanan kita sejauh ini. Mari kita kembali memunguti kisah-kisah dan mengevaluasi diri. Apakah kamu bosan berjalan bersamaku? Apakah kamu jengah mendengar ocehan cerewetku? Pun, tidakkah kamu lelah dengan perdebatan-perdebatan yang sering kali kita lakukan di ruang TV? Perdebatan untuk sekedar memperebutkan channel pertandingan olah raga; kamu suka sepak bola sedangkan aku pecinta badminton. Kamu suka berita politik dan sosial, aku suka film kartun. Lucu memang, sering kali kita berdebat karena hal-hal remeh seperti itu, dan kamu dengan pasrah selalu mengalah. Juga ketika aku mengatakan bahwa aku cemburu dengan rokokmu setiap kali kamu mulai menyalakan pemantik. Seketika, kamu membuang rokokmu, berjalan ke arahku dan memelukku. Itu adalah caraku agar kamu tidak merokok lagi. Aku tahu betapa beratnya bagimu melakukan hal itu. Karena rokok dan kopi adalah inspirasimu. Sekarang, kamu bukan lagi seorang p...