Ruang Sendiri
Ada banyak hal di dunia ini yang lebih baik menjadi tanda tanya. Yang akan kau tanyakan sebab dan alasannya.
Dalam setiap
dimensi zaman tersisa beribu pertanyaan. Semakin menua bukan berarti kita akan
paham segalanya. Meski pohon besar tumbuh menjulang mendekati mega, ia tak akan
mampu memahami bahasa semut yang berbaris di kakinya atau burung-burung yang
singgah di lengannya. Pun, gelak tawa bocah yang bermain di bawah rimbunan
daun-daunnya.
Dalam setiap
bilik waktu tersisa beribu pertanyaan. Yang akan selalu kau tanyakan pada
hembus angin. Kenapa Tuhan membiarkan ketidakadilan yang memasung hak-hak dan
kebebasan. Kenapa selalu terselip keburukan di antara kebaikan. Kenapa harus
ada si miskin ketika Tuhan dapat dengan mudah menjadikan kaya para hamba-Nya. Kenapa
harus ada perbedan jika ia menyulut perselisihan.
Dalam setiap
potong peristiwa tersisa beribu pertanyaan. Yang selalu menggema dalam ingatan.
Yang mengetuk pintu-pintu. Menggelitik akal pikiran. Ketika kenyataan tak
sesuai dengan pengharapan. Ketika impian masih jauh di awang-awang. Ketika hati
bergejolak hebat lantaran peluh tak jua berbuah.
Dalam setiap
ruang waktu pun selalu ada pilihan. Sebagaimana ungkapan Gibran, antara makna
dan kehampaan. Ada ruang sendiri untuk kau yang memilih makna. Kosongkan hati
untuk diisi. Semakin kosong, semakin banyak makna yang kau dapati. Bukankah,
tanpa keburukan kita tak akan mampu mendefinisikan kebaikan? Bukankah tanpa si
miskin, si kaya tak akan memahami hakikat syukur dan berbagi? Dan dalam ruang sendiri itu,
biarkan kesepian mendekapi jiwa. Toh, Sang Nabi pun memperoleh wahyu ketika bersua
dengan sepi.
Lantas,
dalam ruang-ruang sendiri itu, ketika pertanyaan-pertanyaan tak jua terjawab. Biarlah
Tuhan yang membisikkan jawabannya kepada sang waktu.
Aku suka bercumbu dgn sepi. Disana ku dapati bahwa tak ada hal se setia sepi.
BalasHapusTak perlu paham semuanya, biarkan lubang dalam hati ini, terisi oleh Sang pemilik hati.
Weheh eh e
Nice writing utk refleksi diri
Karena pasti semua ada alasan, karena pasti ada kebaikan diantara yang tidak baik, karena meskipun hanya satu persen harapan, tetap itu yang namanya harapan. Tidak akan ada harapan tanpa satu titik itu.
BalasHapusKeren mba Zah! Suka!
tulisan yg kontemplatif. suka mbak.
BalasHapusKadang kita butuh menyendiri.. aku suka sepi karena bisa datang inspirasi dan bisa recharge myself.. ❤
BalasHapushihi saya suka tulisan ini. tapi saya percaya bahwa pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala saat kita berkontemplasi suatu hari akan menemukan jawabannya melalui tanda-tanda yang nggak akan kita duga, dan benar katamu, semuanya hanya menunggu waktu :)
BalasHapusSuka sekali bacanya, bener sih mbak emang kalau lagi sendiri dan sepi suka mikirin hal-hal yang serupa dan pasti jawabannya, tinggal nunggu waktunya aja. Hihi nice 😍😍
BalasHapusYa, hidup itu paradox.. Tanpa paradox, kita tidak akan pernah bisa mengerti kesejatian #halah
BalasHapussendiri
BalasHapussepi
-
jika dua hal ini datang, entah apa yang aku takuti, aku memilih pergi. karena aku rasa, lebih baik seperti itu. jikalau aku harus menghadapi itu, aku bahkan tak bisa membayangkan hanya untuk rencana.
apasih... hahaha.. pokoknya gitu, dah....