Ruang Sendiri

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTt5PSkGj_MUMdk7Zjom19b1pbDCptZwPPaPUO6GkXh3RKqDukLvA


Ada banyak hal di dunia ini yang lebih baik menjadi tanda tanya. Yang akan kau tanyakan sebab dan alasannya. 

Dalam setiap dimensi zaman tersisa beribu pertanyaan. Semakin menua bukan berarti kita akan paham segalanya. Meski pohon besar tumbuh menjulang mendekati mega, ia tak akan mampu memahami bahasa semut yang berbaris di kakinya atau burung-burung yang singgah di lengannya. Pun, gelak tawa bocah yang bermain di bawah rimbunan daun-daunnya.

Dalam setiap bilik waktu tersisa beribu pertanyaan. Yang akan selalu kau tanyakan pada hembus angin. Kenapa Tuhan membiarkan ketidakadilan yang memasung hak-hak dan kebebasan. Kenapa selalu terselip keburukan di antara kebaikan. Kenapa harus ada si miskin ketika Tuhan dapat dengan mudah menjadikan kaya para hamba-Nya. Kenapa harus ada perbedan jika ia menyulut perselisihan. 

Dalam setiap potong peristiwa tersisa beribu pertanyaan. Yang selalu menggema dalam ingatan. Yang mengetuk pintu-pintu. Menggelitik akal pikiran. Ketika kenyataan tak sesuai dengan pengharapan. Ketika impian masih jauh di awang-awang. Ketika hati bergejolak hebat lantaran peluh tak jua berbuah. 

Dalam setiap ruang waktu pun selalu ada pilihan. Sebagaimana ungkapan Gibran, antara makna dan kehampaan. Ada ruang sendiri untuk kau yang memilih makna. Kosongkan hati untuk diisi. Semakin kosong, semakin banyak makna yang kau dapati. Bukankah, tanpa keburukan kita tak akan mampu mendefinisikan kebaikan? Bukankah tanpa si miskin, si kaya tak akan memahami hakikat syukur dan berbagi? Dan dalam ruang sendiri itu, biarkan kesepian mendekapi jiwa. Toh, Sang Nabi pun memperoleh wahyu ketika bersua dengan sepi. 

Lantas, dalam ruang-ruang sendiri itu, ketika pertanyaan-pertanyaan tak jua terjawab. Biarlah Tuhan yang membisikkan jawabannya kepada sang waktu.

Komentar

  1. Aku suka bercumbu dgn sepi. Disana ku dapati bahwa tak ada hal se setia sepi.
    Tak perlu paham semuanya, biarkan lubang dalam hati ini, terisi oleh Sang pemilik hati.
    Weheh eh e
    Nice writing utk refleksi diri

    BalasHapus
  2. Karena pasti semua ada alasan, karena pasti ada kebaikan diantara yang tidak baik, karena meskipun hanya satu persen harapan, tetap itu yang namanya harapan. Tidak akan ada harapan tanpa satu titik itu.
    Keren mba Zah! Suka!

    BalasHapus
  3. tulisan yg kontemplatif. suka mbak.

    BalasHapus
  4. Kadang kita butuh menyendiri.. aku suka sepi karena bisa datang inspirasi dan bisa recharge myself.. ❤

    BalasHapus
  5. hihi saya suka tulisan ini. tapi saya percaya bahwa pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala saat kita berkontemplasi suatu hari akan menemukan jawabannya melalui tanda-tanda yang nggak akan kita duga, dan benar katamu, semuanya hanya menunggu waktu :)

    BalasHapus
  6. Suka sekali bacanya, bener sih mbak emang kalau lagi sendiri dan sepi suka mikirin hal-hal yang serupa dan pasti jawabannya, tinggal nunggu waktunya aja. Hihi nice 😍😍

    BalasHapus
  7. Ya, hidup itu paradox.. Tanpa paradox, kita tidak akan pernah bisa mengerti kesejatian #halah

    BalasHapus
  8. sendiri
    sepi
    -
    jika dua hal ini datang, entah apa yang aku takuti, aku memilih pergi. karena aku rasa, lebih baik seperti itu. jikalau aku harus menghadapi itu, aku bahkan tak bisa membayangkan hanya untuk rencana.

    apasih... hahaha.. pokoknya gitu, dah....

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertunjukan Bayang-bayang

Pohon Pisang

Penyesalan