Gadis Bermata Sendu



Hidup tapi mati. Mati tapi hidup. Apa yang lebih menyakitkan daripada itu? Cerutu adalah kesakitan yang setiap hari dihisapnya. Setiap hari. Setiap waktu. Sampai bibir mungilnya itu tiada mampu mendeskripsikan sakitnya kesakitan.
Dia gadis bermata sendu. Yang berdiri di persimpangan.
Yang menatap nanar jalanan penuh topeng-topeng. Jangan sekali pun kau bertanya rumah kepadanya. Bahkan dia sudah lupa apa itu rumah. Bagaimana wujud rumahnya. Apa warna dinding rumahnya. Dan kenangan apa yang tersisa di sana. Jangan pula kau menanyakan bapak dan ibu kepadanya. Sudah pasti dia diam seribu bahasa. Karena bapak ibunya sudah tiada. Tiada dalam hampanya ke-‘ada’-an. Pun, jangan pernah kau tanyakan cinta kepadanya. Hatinya terlanjur mati untuk menyimpan cinta. Cinta hanyalah kidung yang mengada-ada. Yang menyeret manusia ke dalam tipuan fatamorgana.
Dia gadis bermata sendu. Yang berdiri di persimpangan.
Yang menanti kesakitan-kesakitan lain bertandang kepadanya. Lalu pergi begitu saja. Di bawah bunga-bunga angsana yang berguguran, aku menatapnya. Tiada mampu berbuat apa-apa. Untuk sekedar mengusir lara atau memintanya membagi luka. Bagaimana bisa aku merengkuhnya, sedangkan aku sendiri tak mampu menyelami kesakitannya.
Dia gadis bermata sendu. Yang berdiri di persimpangan.
Yang berharap dalam kematian, didapatinya kehidupan. Sekali lagi. Dalam guguran bunga angsana, tanpa mampu berbuat apa-apa, aku menatapnya. Membiarkannya mati perlahan. Bersama kepulan cerutu yang dihisapnya. Satu, dua, tiga, sampai seluruhnya habis terbakar.    

Dedicated to a friend who’s life but not truly life.

Komentar

  1. Keren banget, pemilihan katanya sangat tepat, inspirasi juga ini buat aku :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inspirasi buat apa nih? Buat menyelami kesedihan gadis bermata sendu? Hahaha.. Tengkyu btw adek uda mmapir.

      Hapus
  2. Gorjes👏 btw, aku juga ingin punya mata sendu. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan deh an, mending mata berbinar deh daripada mata sendu.. Hihihi.. Tengkyu btw udah mampir..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertunjukan Bayang-bayang

Pohon Pisang

Penyesalan